LombokPost--Konflik Thailand-Kamboja kembali mengemuka, terutama akibat sengketa perbatasan dan kisruh politik yang telah berlangsung puluhan tahun.
Thailand vs Kamboja menjadi isu klasik di Asia Tenggara, dengan Kuil Preah Vihear sebagai titik sengketa utama.
Ketegangan Thailand-Kamboja telah memicu putusnya hubungan diplomatik, bentrokan militer, hingga kerusuhan massa.
Ketegangan Thailand-Kamboja pertama kali mencuat tajam pada 1958 dan 1961, ketika Kamboja memutus hubungan diplomatik dengan Thailand karena perselisihan terkait kepemilikan Kuil Preah Vihear—kompleks suci yang terletak di wilayah perbatasan kedua negara.
Kuil Preah Vihear menjadi pusat konflik utama dalam sejarah hubungan Thailand-Kamboja.
Meski Mahkamah Internasional memutuskan bahwa kuil tersebut milik Kamboja, warga dan otoritas Thailand tetap mengklaim wilayah sekitarnya.
Perselisihan tersebut menjadi pemicu utama konflik perbatasan Thailand-Kamboja dari masa ke masa.
Baca Juga: Jadwal Semifinal AFF U-23 2025: Indonesia vs Thailand di GBK, Live di Indosiar
Puncak ketegangan berikutnya terjadi pada 2003, saat terjadi kerusuhan di Phnom Penh akibat rumor penghinaan selebritas Thailand terhadap monarki Kamboja.
Insiden ini memicu pembakaran Kedutaan Besar Thailand dan puluhan bisnis Thailand dirusak massa.
Thailand kemudian melakukan evakuasi besar-besaran terhadap warganya melalui operasi khusus bernama Operasi Pochentong.
2008 dan 2011, bentrokan militer kembali pecah di sekitar Kuil Preah Vihear. Kedua negara saling tuding memulai serangan.
Bentrokan ini menewaskan sejumlah prajurit dari kedua belah pihak dan membuat ribuan warga mengungsi.
Dunia internasional menyerukan dialog damai, namun ketegangan Thailand-Kamboja tetap sulit dipadamkan.
Sementara itu, pada 2009, hubungan kembali memanas saat Kamboja menunjuk mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, sebagai penasihat ekonomi.
Langkah ini memicu kemarahan pemerintah Thailand yang kemudian menurunkan tingkat hubungan diplomatik dengan Kamboja.
Thailand menilai Kamboja telah mencampuri urusan dalam negerinya.
Konflik Thailand-Kamboja menunjukkan bahwa persoalan perbatasan dan politik regional masih sangat rentan di kawasan Asia Tenggara.
Meski beberapa kali dilakukan perundingan bilateral, sengketa Kuil Preah Vihear dan relasi personal pemimpin negara masih jadi faktor penghambat perdamaian permanen.
Ketegangan Thailand-Kamboja akan terus menjadi perhatian regional jika tak segera ditangani lewat jalur hukum internasional dan diplomasi damai.
Selama konflik perbatasan dan ketegangan politik belum diselesaikan secara menyeluruh, ancaman bentrokan akan tetap menghantui kedua negara.
Editor : Kimda Farida