Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk menjaga stabilitas ekonomi. "Keputusan ini sejalan dengan upaya bersama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menjaga tetap rendahnya prakiraan inflasi 2025 dan 2026 dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen dan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya,” kata Perry Warjiyo, kemarin (17/9).
Keputusan ini juga dilatarbelakangi oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Berbagai indikator menunjukkan melemahnya ekonomi di sebagian besar negara.
-
Di Amerika Serikat, keyakinan pelaku ekonomi menurun akibat kebijakan tarif, yang berdampak pada melemahnya konsumsi rumah tangga dan naiknya tingkat pengangguran.
-
Ekonomi Tiongkok juga melambat karena menurunnya ekspor, terutama ke AS, dan melemahnya investasi domestik.
-
Eropa dan Jepang juga mengalami tren penurunan seiring tertekannya kinerja ekspor.
Perry memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia 2025 berpotensi lebih rendah dari prakiraan sebelumnya, yaitu sekitar 3 persen.
BI akan terus bersinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Diharapkan, belanja pemerintah akan meningkat di semester II 2025, sejalan dengan implementasi proyek prioritas dan Paket Kebijakan Ekonomi 2025.
"Dengan penguatan sinergi kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah, pertumbuhan ekonomi semester II 2025 diprakirakan membaik, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 akan berada di atas titik tengah kisaran 4,6 sampai 5,4 persen,” ungkap Perry.
Keputusan BI ini disambut positif oleh pasar. Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai kebijakan ini mencerminkan sikap bank sentral yang akomodatif. Selain BI rate, BI juga memangkas suku bunga lending facility 25 bps menjadi 5,50 persen dan deposit facility 50 bps menjadi 3,75 persen untuk memperkuat penyaluran likuiditas ke sektor riil.
Editor : Redaksi Lombok Post