LombokPost - Kegusaran Israel karena tim senam mereka tak bisa tampil dalam Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta siap dihadapi Indonesia.
Indonesia berpegangan kepada komitmen untuk menjunjung tinggi nilai perdamaian, persaudaraan, dan kesetaraan di setiap kegiatan olahraga.
Kalau saat ini ada penolakan-penolakan, mudah-mudahan ini bentuk diplomasi yang bisa menjadi suara dari pengurus olahraga untuk mewujudkan perdamaian.
"Itu menjadi semangatnya IOC (International Olympic Committee/Komite Olimpiade Indonesia) di Olympic Charter. Itu yang akan kami suarakan," ujar Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari di Jakarta, Selasa (14/10).
Penolakan Indonesia untuk menerbitkan visa itu merupakan bentuk dukungan terhadap Palestina. Israel dikecam banyak negara akibat genosida mereka di Jalur Gaza, meskipun sekarang gencatan senjata telah dijalankan. Langkah tersebut juga didukung Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Indonesia Arena, Jakarta, bakal berlangsung pada 15–19 Oktober. Para pesenam Israel tak bisa berpartisipasi karena pemerintah Indonesia tak menerbitkan visa mereka.
Sikap itu, seperti disampaikan dalam konferensi pers bersama di Indonesia Arena yang juga dihadiri Raja Sapta Oktohari, didukung Federasi Senam Internasional (FIG).
Federasi Senam Israel (IZF) mengecam keras kegagalan keenam atletnya, termasuk peraih emas Olimpiade 2020 Artem Dolgopyat, untuk berpartisipasi. Karena itu, mereka meminta Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) yang bermarkas di Lausanne, Swiss, mengeluarkan putusan untuk memperbolehkan atlet mereka bertanding.
"Kami tidak akan tinggal diam dan akan melawan ini dengan segala cara hukum yang memungkinkan," demikian IZF, dalam pernyataan resminya.
Siapkan Langkah
Upaya Jawa Pos untuk meminta tanggapan Kementerian Hukum dan Kementerian Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, sampai pukul 17.00 kemarin belum mendapat balasan.
Tapi, pada Senin (13/10), Menpora Erick Thohir mengaku telah mengetahui gugatan yang diajukan Israel tersebut, dan tengah menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk menghadapinya.
"Indonesia sebagai negara punya aturan sendiri, dan tetap berpegang teguh dengan prinsip yang kami pegang terkait hal ini. Tentu, kami juga akan menghadapi gugatan ini secara terhormat," katanya, seperti diunggah di akun Instagram pribadinya.
Dengan tak menerbitkan visa, Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 menjadi ajang olahraga pertama yang resmi melarang atlet Israel tampil.
Tapi, seruan untuk melarang atlet atau tim dari Negeri Zionis itu tampil dalam berbagai arena olahraga sebagai hukuman atas kekejaman mereka di Gaza sudah disuarakan berbagai kalangan.
Mulai Perdana Menteri Spanyol sampai Asosiasi Pelatih Sepak Bola Italia, misalnya, yang sudah meminta FIFA dan UEFA melarang tim nasional maupun klub Israel bertanding.
Dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan tuan rumah Norwegia pekan lalu, suporter tuan rumah mem-boo lagu kebangsaan Israel dan mengibarkan bendera raksasa Palestina.
Fokus ke Pertandingan
FIG dan FGI (Federasi Gimnastik Indonesia) belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah hukum Israel tersebut kemarin. FGI memilih fokus untuk mempersiapkan event dan atlet.
Ada delapan atlet yang bakal mewakili Indonesia di ajang tersebut. Lima di antaranya gymnast putra, yakni Abiyu Raffi, Muhammad Aprizal, Satria Tri Wira Yudha, Agung Suci Tantio Akbar, dan Joseph Judah Hatoguan. Untuk gymnast putri ada Alarice Mallica Prakoso, Salsabilla Hadi Pamungkas, dan Larasati Rengganis.
Naufal Takdir Al Bari, pesenam asal Gresik, Jawa Timur, sebenarnya juga dipersiapkan tampil di ajang tersebut.
Tapi, atlet 19 tahun tersebut mengalami kecelakaan saat berlatih di Penza, Rusia, dan kemudian meninggal setelah dua pekan dirawat di rumah sakit.
Bidang Pembinaan dan Prestasi FGI Hesti Diwayanti mengatakan, pemilihan tim nasional merupakan keputusan kolektif dari berbagai bidang. Hesti, yang juga mantan gymnast nasional, memastikan seluruh proses pemilihan tersebut dilakukan secara objektif.
“Didasarkan data performa masing-masing atlet, kondisi fisik, dan tingkat kesiapan para gymnast menuju kompetisi dunia,” katanya.
Dalam susunan akhir, dikatakannya, terdapat penyesuaian di sektor Women’s Artistic Gymnastics dengan Larasati Rengganis menggantikan Ameera Rahmajanni Hariadi.
Serta, di sektor Men’s Artistic Gymnastics, Joseph Judah Hatoguan menjadi atlet terakhir yang bergabung bersama empat gymnast putra pelatnas.
Lebih lanjut, Hesti berharap agar para gymnast dapat memaksimalkan kesempatan tampil dalam kejuaraan dunia dengan sebaik-baiknya.
“Sebagai bekal untuk menghadapi berbagai event setelah Jakarta Gymnastics 2025, termasuk SEA Games,” katanya. (raf/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida