LombokPost - Mark Bryan kembali jadi sorotan dunia mode. Pria asal Amerika Serikat yang dikenal dengan gaya berani, mengenakan rok dan sepatu hak tinggi, ini terus menegaskan satu hal: “pakaian tidak memiliki gender.”
Nama Mark Bryan kembali naik di media sosial karena pesan kebebasan berekspresinya yang kuat. Ia bukan model profesional, bukan pula aktivis gender.
Ia adalah seorang insinyur, ayah tiga anak, dan suami yang hanya ingin membuktikan bahwa gaya tidak harus terikat oleh jenis kelamin.
Bryan mengaku tidak mencoba menjadi perempuan. Ia tetap mendefinisikan diri sebagai pria heteroseksual cisgender yang menikmati memadukan pakaian maskulin dan feminin tanpa batasan.
“Saya ingin menunjukkan bahwa rok dan hak tinggi bisa dikenakan siapa pun tanpa kehilangan maskulinitas,” kata Bryan dalam wawancara bersama Harper’s Bazaar Australia.
Gaya Bebas Label yang Menginspirasi Dunia
Di akun Instagram-nya, @markbryan911, ia rutin membagikan gaya berpakaian uniknya.
Jas rapi dipadu dengan rok pensil, kemeja kerja dengan hak tinggi, hingga tampilan kasual tanpa stereotip gender. Tak heran, kini lebih dari 600 ribu pengikut menantikan unggahannya.
Bagi Mark Bryan, mode bukan hanya soal tren, tapi soal keaslian dan keberanian menjadi diri sendiri.
Pesan ini membuatnya disorot sebagai ikon kebebasan berekspresi dalam dunia fashion tanpa gender.
Dari Sorotan ke Kontroversi
Namun perjalanan Mark Bryan tak selalu mulus. Pada 2022, ia menuai kritik setelah dalam wawancara dengan Business Insider ia mengeluhkan bahwa publik sering menganggapnya gay karena pilihan pakaiannya.
Komentar itu dianggap kurang sensitif terhadap komunitas LGBTQIA+.
Menanggapi reaksi keras tersebut, Bryan segera meminta maaf di Instagram, menyatakan bahwa ia “masih belajar” dan tidak bermaksud menyinggung siapa pun.
Dalam wawancara lanjutannya dengan Purple Haze Magazine pada 2023, Bryan mengaku insiden itu menjadi pengingat penting tentang tanggung jawab publik figur dalam berbicara tentang identitas dan ekspresi diri.
Simbol Kebebasan di Era Mode Tanpa Gender
Meski sempat tersandung kontroversi, citra Mark Bryan tetap kuat di kalangan generasi muda, terutama Milenial dan Gen Z.
Ia dianggap simbol perubahan yang berani menentang norma lama dan membuka ruang baru bagi siapa pun untuk berpakaian tanpa rasa takut dihakimi.
Di tengah dunia fashion yang semakin inklusif, kisah Mark Bryan menjadi bukti bahwa keaslian lebih kuat daripada label.
Ia bukan hanya menantang aturan berpakaian, tapi juga prasangka sosial yang membatasi kebebasan berekspresi.
“Saya hanya ingin berpakaian seperti yang saya suka. Dunia akan menjadi lebih baik jika kita berhenti memberi label pada pakaian dan mulai menghargai orang apa adanya,” ucap Mark. (***)
Editor : Alfian Yusni