Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Geger! Emas Dewa 5 KG Hilang Habis Dikerok

Fratama P. • Rabu, 5 November 2025 | 20:40 WIB
Emas dicuri
Emas dicuri

LombokPost - Kuil Sabarimala, salah satu kuil Hindu paling dihormati di India Selatan yang berlokasi di Kerala, menjadi pusat kontroversi besar setelah terungkapnya dugaan pencurian emas dalam skala besar.

Kuil tersebut dikabarkan telah kehilangan setidaknya 5 kilogram (kg) dari total 30 kg emas yang dimiliki.

Skandal ini berfokus pada dua patung suci yang dikenal sebagai Dwarapalaka, di mana lapisan emas yang melapisinya diduga telah dikerok.

Tingginya tingkat kerugian dan sensitivitas kasus ini mendorong Pengadilan Tinggi Kerala untuk mengambil tindakan tegas, termasuk membentuk Tim Investigasi Khusus (SIT).

Kasus  ini mulai diusut secara serius oleh pengadilan sejak September 2025.

Penyelidikan awal dipicu oleh laporan dari Komisioner Khusus yang ditunjuk Pengadilan Sabarimala, yang mengindikasikan bahwa pelapisan emas pada patung-patung kuil telah mengalami pengerokan di banyak bagian.

Menurut perkiraan yang disajikan dalam laporan pengadilan, secara keseluruhan, diperkirakan sekitar 4,54 kg emas telah raib sejak tahun 2019.

Lebih lanjut, pemimpin oposisi di majelis legislatif negara bagian, VD Satheesan dari Partai Kongres, bahkan menyatakan bahwa "sekitar 5kg emas telah dicuri".

Emas yang menjadi subjek pencurian adalah bagian dari total 30,291 kg emas yang merupakan sumbangan dari miliarder terkenal, Vijay Mallya.

Emas tersebut telah digunakan untuk melapisi patung dan bagian kuil lainnya pada periode 1998-1999.

Eks-Pendeta dan Pejabat Dewan Kuil Terlibat

Pusat utama kontroversi ini adalah Unnikrishnan Potty, mantan asisten pendeta di Kuil Sabarimala.

Pada Juli 2019, Dewan Travancore Devaswom (TDB), yang bertugas mengelola kuil, mengizinkan Potty untuk membawa patung-patung tersebut keluar kuil dengan dalih pelapisan emas baru.

Namun, kejanggalan muncul dua bulan kemudian saat patung dikembalikan tanpa dilakukan penimbangan ulang. Investigasi yang menyusul kemudian mengungkapkan adanya penurunan berat patung secara signifikan.

Potty telah ditangkap dan kini ditahan oleh hakim. Saat dibawa keluar dari pengadilan, ia melancarkan protes keras kepada wartawan, berteriak bahwa dirinya sedang "dijebak".

"Kebenaran akan terungkap. Mereka yang menjebak saya akan menghadapi hukum. Semuanya akan terungkap," ujarnya.

Selain itu, Pengadilan juga melontarkan kritik tajam terhadap pejabat kuil karena "secara keliru" mengizinkan Potty menyimpan sekitar 474,9 gram emas setelah proses perbaikan.

Pengadilan merasa "sangat tergganggu" ketika menemukan adanya email dari Potty yang meminta izin kepada dewan untuk menggunakan "kelebihan emas" tersebut untuk membiayai "pernikahan seorang gadis yang dikenalnya atau terkait dengannya".

Dua pejabat dewan kuil lain, termasuk PS Prasanth yang merupakan Presiden dewan, juga telah ditangkap oleh pihak kepolisian dalam beberapa hari terakhir. Pengadilan berjanji untuk mengambil tindakan tegas.

"Mengidentifikasi dan menyeret ke pengadilan setiap orang yang bersalah dalam masalah ini, terlepas dari posisi, pengaruh, atau status orang tersebut." jawabnya.

Implikasi Politik dan Tuntutan Pengunduran Diri

Skandal pencurian ini segera memicu perseteruan politik di negara bagian Kerala.

Partai-partai oposisi telah menggelar protes besar menentang pemerintah Komunis Kerala yang berkuasa.

Oposisi menuntut agar Menteri Urusan Kuil Negara Bagian, VN Vasavan, bertanggung jawab atas kegagalan pemerintah dalam melindungi aset berharga dewa dan menuntut agar ia segera mengundurkan diri.

Vasavan membantah keras semua tuduhan dan menolak seruan pengunduran diri tersebut.

Ia menegaskan kesediaannya untuk sepenuhnya membantu penyelidikan.

"Kami akan sepenuhnya bekerja sama dengan penyelidikan yang diawasi pengadilan oleh tim polisi tingkat tinggi," katanya.

"Biarkan masyarakat mengetahui semua transaksi sejak 1998 dan apa yang terjadi sekarang. Kami tidak menyembunyikan apa pun",***

Editor : Fratama P.
#EMAS