LombokPost - Sedikitnya 140 orang tewas akibat topan Kalmaegi yang melanda Filipina dalam beberapa hari terakhir.
Sementara 127 orang masih dinyatakan hilang, menurut data terbaru Badan Pertahanan Sipil Nasional Filipina, Kamis (6/11).
Angka tersebut belum termasuk 28 korban tambahan yang baru dilaporkan otoritas Provinsi Cebu.
Dilansir AFP, badai membawa curah hujan ekstrem yang menyebabkan banjir besar dan tanah longsor di berbagai wilayah, terutama di Provinsi Cebu dan pulau tetangga Negros.
Otoritas setempat menyebut bencana ini sebagai banjir terburuk dalam sejarah.
Di Kota Liloan, dekat Cebu City, 35 warga ditemukan tewas. Banjir menyapu rumah, kendaraan, dan kontainer berukuran besar.
“Kami sudah berusaha membuka pintu kamar dengan pisau dapur, tapi tak bisa. Saat kulkas mulai mengapung, ayah menyuruhku keluar lewat jendela,” tutur Christine Aton, warga yang kehilangan kakaknya penyandang disabilitas.
Di Canlaon City, Pulau Negros, sedikitnya 30 orang meninggal akibat aliran lahar dingin dari Gunung Kanlaon setelah diguyur hujan deras.
“Material vulkanik sisa erupsi tahun lalu longsor dan menimbun permukiman,” ujar Letnan Polisi Stephen Polinar.
Enam anggota kru helikopter militer juga tewas setelah pesawat mereka jatuh saat menjalankan misi bantuan. Hampir 800.000 orang telah dievakuasi dari jalur lintasan badai di Cebu City.
Kalmaegi kini bergerak menuju Vietnam dengan kecepatan angin mencapai 155 kilometer per jam dan hembusan hingga 190 km/jam. Wakil Perdana Menteri Vietnam Tran Hong Ha mengingatkan otoritas lokal agar mewaspadai dampak lanjutan.
“Ini badai yang tidak biasa dan sangat berbahaya,” ujarnya. (lyn/gas/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida