LombokPost - Presiden Tiongkok Xi Jinping menekan isu Taiwan dalam panggilan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump Selasa (25/11). Panggilan tersebut berlangsung setelah Jinping dan Trump bertemu pada akhir Oktober lalu dan menjadi kali pertama dalam enam tahun.
Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan, percakapan tersebut juga membahas isu lain seperti Ukraina. Namun, Taiwan menjadi fokus utama, terutama setelah pecahnya perselisihan diplomatik beberapa pekan terakhir antara Beijing dan Tokyo.
Ketegangan itu dipicu pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menyebut Jepang bisa ikut campur secara militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan.
Singgung Perang Dunia II
Tiongkok menegaskan klaim atas Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Menurut Jinping, kembalinya Taiwan merupakan bagian integral dari tatanan internasional pascaperang yang dibentuk lewat perjuangan bersama AS-Tiongkok dalam melawan fasisme dan militerisme. ”Dengan apa yang terjadi sekarang, semakin penting bagi kita bersama menjaga kemenangan Perang Dunia II,” kata Jinping seperti dilansir dari AFP.
Pernyataan Jinping itu ditolak keras oleh Perdana Menteri Taiwan Cho Jung-tai. Menurut Jung-tai, Taiwan adalah negara berdaulat sepenuhnya dan tidak ada opsi kembali. Sementara AS tetap tidak mengakui Taiwan sebagai negara merdeka. Meski, AS tetap menjadi mitra dan pemasok senjata terpenting bagi Taiwan.
Berbalas Kunjungan
Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump memuji hubungan AS dengan Tiongkok yang sangat kuat.
Trump juga tidak menyinggung isu Taiwan, melainkan memberi konfirmasi akan berkunjung ke Tiongkok pada April tahun depan. Sebaliknya, Xi dijadwalkan mengunjungi Washington juga pada tahun depan.
Perundingan Perdagangan. Telepon Jinping dan Trump juga berkaitan dengan perkembangan perundingan perdagangan mulai dari rare earth (tanah jarang) hingga kedelai dan biaya pelabuhan.
Dalam kesepakatan Oktober, Beijing sepakat menangguhkan selama satu tahun sejumlah pembatasan ekspor mineral penting. Sementara AS menyatakan akan mengurangi tarif produk Tiongkok. Beijing kemudian berkomitmen membeli sedikitnya 12 juta ton kedelai AS hingga akhir tahun ini dan 25 juta ton pada 2026.
”Kami berharap pasokan rare earth dapat diselesaikan sebelum libur Thanksgiving (Kamis, 27/11, Red),” kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent. (lyn/dns/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida