Kedua negara sepakat menandatangani perjanjian gencatan senjata pada Sabtu (27/12/2025) waktu setempat.
Proses penandatanganan dilakukan oleh Menteri Pertahanan Kamboja, Tea Seiha, dan Menteri Pertahanan Thailand, Nattaphon Narkphanit, bertempat di pos pemeriksaan perbatasan yang menghubungkan Provinsi Pailin (Kamboja) dan Provinsi Chanthaburi (Thailand).
Keberhasilan diplomasi ini dimediasi oleh Malaysia selaku Ketua ASEAN, serta mendapatkan dorongan signifikan dari Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan memberikan tekanan diplomatik dengan mengancam akan menahan hak istimewa perdagangan bilateral kecuali kedua negara sepakat untuk mengakhiri pertikaian.
Menteri Pertahanan Kamboja, Tea Seiha, menyatakan bahwa gencatan senjata ini merupakan langkah krusial untuk memulihkan stabilitas sosial bagi warga di zona konflik.
”Juga memungkinkan anak-anak mereka untuk dapat kembali ke sekolah dan melanjutkan studi mereka," katanya setelah penandatanganan sebagaimana dikutip dari PBS News.
Senada dengan hal tersebut, juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri, menyebutkan bahwa situasi yang stabil akan menjadi indikator kunci bagi kebijakan pemulangan tawanan perang.
”Namun, jika gencatan senjata tidak terwujud, ini akan menunjukkan kurangnya ketulusan di pihak Kamboja untuk menciptakan perdamaian yang pasti," ujar Surasant.
Meskipun dokumen yang ditandatangani secara formal hanya mengatur gencatan senjata selama 72 jam, pihak Thailand berharap jeda pertempuran ini dapat berlanjut menjadi perdamaian permanen. Namun, militer Thailand tetap menyatakan kewaspadaannya terhadap situasi di lapangan.
Baca Juga: Redam Konflik Perbatasan, Thailand dan Kamboja Agendakan Pertemuan Militer di Chanthaburi
”Waktu yang akan membuktikan secara nyata apakah Kamboja benar-benar dapat menghentikan penggunaan senjata, provokasi, dan ancaman di daerah tersebut," ucap Surasant.
Konflik yang meletus sejak 7 Desember ini telah menimbulkan dampak yang memprihatinkan. Berikut ringkasan korban jiwa yang dilaporkan:
Thailand mengaku Kehilangan 26 personel militer dan melaporkan total 44 kematian warga sipil.
Sementara itu Kamboja Melaporkan 30 warga sipil tewas dan 90 orang luka-luka (belum merilis angka resmi korban militer).
Selain itu Ratusan ribu warga di kedua sisi perbatasan terpaksa dievakuasi selama periode konflik berlangsung.(*)
Editor : Redaksi Lombok Post