LombokPost - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengharap Amerika Serikat (AS) memilih “opsi yang bijak” berupa dialog.
Tapi, jika Negeri Paman Sam itu menginginkan perang sebagaimana ancaman Presiden Donald Trump, Negeri Para Mullah siap meladeni.
Araghchi menambahkan, saluran komunikasi dengan AS tetap terbuka di tengah demonstrasi massal yang tengah terjadi di Iran.
“Kami siap menghadapi semua opsi,” katanya dalam wawancara dengan Al Jazeera Senin (13/1) malam waktu Teheran.
Menurut Araghchi, Iran saat ini punya “kesiapan kekuatan militer yang besar dan ekstensif.” Itu jika dibandingkan saat perang 12 hari menghadapi Israel yang dibantu AS tahun lalu.
“Jika Washington ingin mengetes kekuatan militer yang telah mereka tes sebelumnya, kami siap,” katanya.
Minggu (10/1) lalu, Trump menyebut kalau dia mempertimbangkan “opsi keras” terkait Iran dalam kaitan dengan respons rezim terhadap demonstrasi yang berlangsung mulai akhir tahun lalu. Yang dia maksud dengan opsi keras termasuk aksi militer.
Trump yang baru saja memerintahkan penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro juga menyebut kalau pertemuan dengan pihak Iran tengah dirancang untuk membahas program nuklir. “Tapi, kami mungkin juga ambil langkah karena apa yang terjadi sebelum pertemuan,” kata Trump, seperti dikutip dari AFP.
Mengenai jumlah korban buntut demonstrasi, Araghchi mengulangi apa yang sudah dianyatakan sebelumnya tentang keterlibatan “elemen teroris” yang “telah menginfiltrasi massa dan menargetkan aparat keamanan serta demonstran.”
Baik Araghchi maupun Presiden Mahmoud Pezeshkian secara terbuka menuding AS dan Israel berada di balik demonstrasi.
Internet Masih Down
Pada Senin (11/1) Garda Revolusi Iran juga mengumumkan telah menangkap dua orang yang disebut terkait dengan Mossad, badan intelijen Israel. Lebih dari 100 aparat disebut telah menjadi korban tewas.
Jumlah keseluruhan korban masih simpang siur. Iran Human Rights memperkirakan jumlahnya mencapai 648 orang. Al Jazeera mengakui belum bisa memverifikasi secara independen berapa persis jumlahnya.
Sejak Kamis (7/1) sampai dengan kemarin (13/1) internet di seluruh Iran masih down. Di sebagian titik kemarin, warga bisa menelpon. Tapi, mengirim pesan, email, atau mengakses berita tetap belum bisa.
Araghchi pada Senin (12/1) menyebut kalau pemulihan akses tengah dikoordinasikan dengan pihak keamanan. Menurut data Monitor NetBlocks, sampai Senin pukul 16:29 GMT (23.29 WIB) internet sudah 96 jam down.
Ketua DPR Iran Bager Ghalibaf sebelumnya juga mengatakan, AS dan Israel bakal menjadi “target yang sah” jika Trump benar-benar mengambil opsi militer. “Jadi, Washington jangan sampai miskalkulasi,” katanya.
Dari Washington DC, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan, pesan yang dikirimkan Iran secara privat “agak berbeda” dengan yang dinyatakan di publik. “Tapi, presiden tidak gentar memilih opsi militer jika dirasa perlu,” katanya dalam wawancara dengan Fox News.
Tarif 25 Persen
Tentang opsi militer AS, CBS, mengutip dua pejabat Departemen Pertahanan AS, melansir kalau Trump sudah dibrifing tentang senjata apa saja yang bisa digunakan untuk menyerang Iran. Misil jarak jauh tetap jadi pilihan yang potensial.
“Tapi, Pentagon juga mempresentasikan skema operasi siber dan kampanye psikologi,” kata salah seorang pejabat yang dikutip.
Para pejabat di sektor keamanan dijadwalkan menghelat pertemuan di Gedung Putih pada Selasa (13/1) waktu Washington DC. Sementara itu, Trump juga mengumumkan penetapan tarif 25 persen untuk semua produk dari negara-negara yang menjalin hubungan perdagangan dengan Iran.
“Perintah ini final dan konklusif,” kata Trump di akun Truth Social-nya.
Ekonomi Iran yang sudah terguncang akibat sanksi-sanksi AS menghadapi kenaikan harga-harga bahan pangan sampai dengan 70 persen. Bahan pangan merupakan sepertiga dari keseluruhan impor negeri yang beribu kota di Teheran tersebut.
Relasi Iran dan AS sejak 1953
1953: AS mendukung kudeta yang mendudukkan kembali Shah Iran di kursi kekuasaan.
1957: Atoms for Peace, inisiatif Presiden AS Dwight Eisenhower membagikan teknologi nuklir sipil ke negara lain, termasuk Iran di bawah Shah.
1979: Revolusi Islam yang mencongkel Shah dari kekuasaan.
1980: AS memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran.
1980–1988: AS mendukung Iraq dalam Perang Iran–Iraq.
1988: Penembakan pesawat komersial Iran Air Flight 655 oleh kapal perang AS USS Vincennes. Sebanyak 290 orang di pesawat rute Teheran–Dubai itu tewas.
1995: Sanksi terhadap Iran diperberat.
2013: Kesepakatan nuklir antara Iran dengan AS, Inggris, Prancis, Rusia, Tiongkok, dan Jerman. Sebagian program nuklir Iran dibekukan dengan imbalan sanksi ekonominya diperingan.
2018: Presiden Donald Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir dengan Iran.
2020: Komandan Garda Revolusi Iran dibunuh.
2024: AS membantu Israel menyerang Iran.
2025: AS kembali mengancam menyerang Iran dengan dalih membela demonstran antipemerintah. Iran mengancam balik sambil menuding demonstrasi tersebut diorkestrasi AS dan Israel.
Sumber: Instagram Qasim Farooqq dan sumber lain. (mia/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida