LombokPost — Rusia kembali menyuarakan keprihatinan serius menyusul bertambahnya kehadiran militer negara-negara NATO di Greenland. Kali ini, kontingen kecil militer Prancis telah tiba di ibu kota Nuuk, sebagai bagian dari misi pengintaian yang juga melibatkan Jerman, Swedia, Norwegia, Finlandia, Belanda, dan Inggris.
Kedutaan Besar Rusia di Belgia menyebut situasi yang berkembang di Arktik sebagai “sangat mengkhawatirkan”. Moskwa menuding NATO membangun kehadiran militer di kawasan kutub utara dengan dalih palsu adanya ancaman dari Rusia dan China.
“Aliansi Atlantik Utara terus memperkuat jejak militernya di Arktik dengan alasan yang dibuat-buat,” demikian pernyataan kedutaan Rusia, menanggapi pengerahan pasukan Eropa ke Greenland.
Sinyal Politik NATO
Pengerahan pasukan NATO di Greenland dipimpin Denmark melalui latihan bersama bertajuk Operation Arctic Endurance. Jumlah personel yang dikerahkan hanya puluhan orang, namun dinilai sarat makna politik.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan kontingen awal Prancis akan segera diperkuat dengan aset darat, udara, dan laut. Diplomat senior Prancis Olivier Poivre d’Arvor menyebut misi tersebut sebagai sinyal tegas kepada Washington.
“Ini latihan pertama. Kami ingin menunjukkan kepada Amerika Serikat bahwa NATO hadir,” ujarnya.
Prancis mengirim sekitar 15 personel militer. Jerman menyusul dengan mengerahkan pesawat angkut A400M ke Nuuk membawa 13 tentara, meski hanya akan berada di Greenland hingga akhir pekan. Finlandia mengirim dua perwira penghubung untuk misi pencarian fakta, sementara Swedia, Norwegia, Inggris, dan Belanda juga menempatkan perwakilan militernya.
Trump Tetap Bersikukuh
Langkah NATO ini berlangsung di tengah desakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang terus menekan agar Greenland berada di bawah kendali AS. Trump kembali menyatakan Greenland penting bagi keamanan nasional Amerika dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan.
“Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional,” kata Trump di Ruang Oval, seraya menyebut Denmark tidak akan mampu mencegah Rusia atau China jika ingin menguasai pulau tersebut.
Namun, Gedung Putih menilai pengerahan pasukan Eropa tidak memengaruhi sikap Trump. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa langkah NATO tidak mengubah tujuan Presiden AS untuk “mengakuisisi” Greenland.
Baca Juga: Pasukan NATO Tiba di Greenland, Trump Dikritik Warga dan Tegang dengan Denmark!
Penolakan Eropa dan Denmark
Pemerintah Denmark dan Greenland menolak keras ambisi Trump. Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen mengatakan tidak ada ancaman instan dari Rusia atau China yang tidak dapat ditangani Denmark dan Greenland, meski mengakui kekhawatiran keamanan AS sebagian bisa dipahami.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan bahwa pertahanan Greenland adalah kepentingan bersama seluruh aliansi NATO. Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen menambahkan, kehadiran militer akan dilakukan secara bergiliran dengan tujuan jangka panjang membangun kehadiran yang lebih permanen bersama sekutu.
Sikap serupa disampaikan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen. Ia menegaskan rakyat Greenland tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat.
“Greenland tidak ingin dimiliki, diperintah, atau menjadi bagian dari Amerika Serikat,” ujarnya.
Arktik Makin Rawan
Bagi Rusia, bertambahnya pasukan NATO di Greenland memperkuat kekhawatiran Moskwa bahwa Arktik kian dimiliterisasi. Kawasan ini selama beberapa tahun terakhir menjadi arena persaingan strategis global, seiring mencairnya es laut akibat perubahan iklim yang membuka jalur pelayaran baru dan potensi eksploitasi sumber daya alam.
Dengan NATO dan Rusia sama-sama meningkatkan kehadiran militernya, Greenland kini berada di titik pusat ketegangan geopolitik Arktik—antara simbol, strategi, dan risiko konflik jangka panjang.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin