Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Iran Umumkan Zona Larangan Terbang di Sekitar Selat Hormuz, Untuk Latihan Militer, AS Juga “Panasi Mesin”

Lombok Post Online • Kamis, 29 Januari 2026 | 12:36 WIB
KIAN PANAS: Seorang wanita Iran berjalan melewati spanduk anti-AS dan anti-Israel yang tergantung di sebuah gedung di Lapangan Palestina di Teheran, Selasa (27/1).
KIAN PANAS: Seorang wanita Iran berjalan melewati spanduk anti-AS dan anti-Israel yang tergantung di sebuah gedung di Lapangan Palestina di Teheran, Selasa (27/1).

LombokPost - Saling gertak antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memasuki fase baru. Kedua pihak mengumumkan bakal menghelat latihan militer.

Mengutip Anadolu, Iran mengeluarkan notifikasi penggunaan wilayah udara (NOTAM) yang intinya memberitahukan bahwa bakal ada aktivitas militer di zona udara sepanjang Selat Hormuz.

Aktivitas itu berlangsung dari Selasa (27/1) sampai Kamis (29/1). Notifikasi itu juga menyebutkan bakal ada larangan terbang di zona udara yang dimaksud karena berbahaya untuk dilalui.

Di sisi lain, AS juga mengumumkan bakal menggelar latihan militer multi-hari di Timur Tengah. Kegiatan “memanaskan mesin” tersebut bakal melibatkan kapal induk USS Abraham Lincoln yang sudah berada di kawasan tersebut dan telah mengerek tensi ketegangan.

Komando Pusat Angkatan Udara AS (AFCENT) menyatakan, latihan tersebut bertujuan menguji kesiapan tempur.

Dalam pernyataan resminya, seperti dikutip dari The Guardian, AFCENT akan mengasah kemampuan mengerahkan, menyebarkan, dan mempertahankan kekuatan tempur pasukan udara.

Latihan itu dirancang untuk memperkuat kemampuan penyebaran aset dan personel, meningkatkan kemitraan regional, serta menyiapkan opsi respons yang fleksibel. Sejauh ini, AFCENT tidak merinci jadwal, lokasi, maupun daftar aset militer yang terlibat dalam latihan tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut kalau pengerahan tersebut sebagai bagian dari tekanan terhadap Iran. “Kami punya armada besar di dekat Iran,” kata Trump.

Meski demikian, Trump menegaskan, Washington masih membuka peluang dialog. “Mungkin kami tidak perlu menggunakannya (kekuatan militer, Red),” imbuhnya.

Tawaran dialog itu ditolak Iran. “Diplomasi lewat ancaman militer itu tak akan efektif atau berguna,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, seperti dikutip dari AFP.

Araghchi menambahkan, dalam beberapa waktu terakhir dia juga tak menjalin kontak dengan Steve Witkoff, negosiator AS untuk persoalan Timur Tengah. “Kami tidak sedang mengusahakan negosiasi,” katanya.

Galang Komitmen

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah melakukan panggilan telepon dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) setelah USS Abraham Lincoln berada di Timur Tengah. Kedua negara tersebut sebelumnya dikenal bermusuhan, tapi belakangan hubungan keduanya membaik.

MBS, mengutip keterangan Kantor Kepresidenan Iran, menyambut baik dialog tersebut. MBS juga disebut  berkomitmen terhadap stabilitas, keamanan, dan pembangunan regional. Solidaritas negara Islam perlu dibangun. Adapun Kantor berita Saudi, SPA,  melaporkan, dalam percakapan tersebut, sang putra mahkota menegaskan kepada presiden Iran bahwa Riyadh tidak akan mengizinkan wilayah udaranya atau teritorialnya digunakan untuk aksi militer terhadap Teheran. (lyn/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#negosiasi #Amerika Serikat #zona #udara #iran #trump