LombokPost - Israel seperti menabur bensin di atas api.
Di tengah ketegangan di Timur Tengah akibat terus ditambahnya kekuatan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan tersebut, Tel Aviv menyebut, serangan ke Iran bakal berlangsung dua pekan lagi atau paling lambat dua bulan.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Eyal Zamir yang “membocorkan” rencana serangan tersebut.
“Ini adalah periode ketidakpastian,” katanya, sebagaimana dikutip dari Middle East Monitor, Senin (2/2).
Zamir juga disebut telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah petinggi militer AS pada akhir pekan lalu.
Pertemuan itu disebut sebagai bagian dari upaya koordinasi antarmiliter kedua negara menjelang serangan terhadap Iran.
Yang pasti, AS memang terus menambah jumlah personel dan peralatan militer mereka di Timur Tengah. Aksi tersebut mirip dengan yang mereka lakukan sebelum akhirnya melakukan agresi dan menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Saat ini di Timur Tengah, Angkatan Udara AS, di antaranya, sudah menerjunkan lebih dari 80 pesawat angkut C-17, tiga C-5M atau pesawat transportasi berbodi besar, serta banyak lagi pesawat dengan fungsi sejenis.
Dari Angkatan Laut, selain USS Abraham Lincoln, di Laut Mediterania juga telah siaga USS Georgia, kapal selam yang dilengkapi senjata nuklir.
Selain itu, sejumlah kapal jenis destroyer telah pula berada di Timur Tengah.
Ancaman Iran
Di balik layar, konon perwakilan Iran dan AS terus melakukan negosiasi. Namun, menanggapi pergerakan militer AS, Iran juga konsisten bereaksi keras.
“Jika mereka (AS) memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional,” kata Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei dalam pidatonya di hadapan ribuan pendukung di pusat kota Teheran, Minggu (1/2).
Pidato tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan kembalinya Ayatullah Ruhollah Khomeini dari pengasingan di Prancis pada 1979. Khomeini kemudian memimpin Revolusi Iran pada tahun tersebut yang menyingkirkan Dinasti Pahlavi yang didukung AS.
Dalam kesempatan itu, Khamenei juga menyinggung gelombang protes antipemerintah yang terjadi sejak akhir Desember. Dia menyebut, kerusuhan tersebut sebagai bentuk hasutan dan menyerupai upaya kudeta.
“Target mereka adalah menghancurkan pusat-pusat vital negara. Karena itu, mereka menyerang polisi, kantor pemerintahan, fasilitas Garda Revolusi, bank, dan masjid, serta membakar Alquran,” ujarnya, seperti dikutip dari Al Jazeera.
Menanggapi pernyataan Khamenei, Presiden AS Donald Trump mengatakan, pihaknya masih berharap tercapainya kesepakatan dengan Iran. “Tentu saja dia akan mengatakan itu. Mudah-mudahan kita bisa membuat kesepakatan. Jika tidak, kita akan lihat apakah dia benar,” ujar Trump.
Trump pada Sabtu (31/1) mengatakan, kapal-kapal AS mendekati Iran. Dia juga mengancam bisa mengambil tindakan militer terhadap Teheran karena membunuh para demonstran.
“Kami memiliki kapal-kapal terbesar dan terkuat di dunia di sana. Sangat dekat, hanya beberapa hari perjalanan,” katanya, seperti dikutip dari Sky. (lyn/ttg/JPG/r3)
Editor : Jelo Sangaji