LombokPost--Kisah heroik Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, mencuat ke publik setelah seorang tokoh Iran mengungkapkan detik-detik terakhir sebelum ia dilaporkan gugur dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2).
Dalam wawancara dengan media lokal Iran, sumber tersebut menyebut Khamenei menolak dipindahkan ke lokasi aman meski situasi keamanan semakin memburuk.
Aparat keamanan disebut telah beberapa kali meminta dirinya meninggalkan kantor dan menuju kota lain demi keselamatan.
Namun, Khamenei menolak dengan tegas.
“Jika kalian bisa memindahkan 90 juta warga Iran ke kota lain, saya akan pindah setelah 90 juta orang itu,” ujar sumber tersebut menirukan pernyataan Khamenei.
Tak berhenti di situ, aparat keamanan juga menawarkan perlindungan tambahan berupa ruang bawah tanah khusus. Tawaran itu kembali ditolak.
“Jika kalian bisa membangun ruang bawah tanah untuk seluruh rakyat Iran, maka saya juga siap pindah setelah mereka,” lanjutnya.
Baca Juga: Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati Perjuangkan Nasib Guru Madrasah NTB Jadi PPPK
Karena permintaan tersebut mustahil dipenuhi untuk seluruh rakyat Iran, Khamenei disebut tetap bertahan di kantornya hingga serangan udara terjadi pada pagi hari.
Pesawat tempur yang disebut berasal dari Israel dan Amerika Serikat kemudian menyerang kompleks tempatnya berada.
Dalam peristiwa tersebut, Khamenei dikabarkan gugur bersama istrinya, menantu perempuan, serta beberapa keponakannya.
Kisah ini dengan cepat menyebar luas dan memicu beragam reaksi, baik di dalam negeri Iran maupun di panggung internasional.
Baca Juga: Bupati Sumbawa Desak Gubernur NTB Percepat Perbaikan Jalan Lenangguar–Lunyuk
Bagi para pendukungnya, sikap Khamenei dinilai sebagai simbol kepemimpinan yang memilih tetap bersama rakyatnya hingga akhir hayat.
Editor : Kimda Farida