Penutupan Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Gas dan Minyak, Warga Negeri Paman Sam Diminta Tinggalkan Timur Tengah

Lombok Post Online • Dipublikasikan Rabu, 4 Maret 2026 | 09:00 WIB

TERDAMPAK: Seorang wanita menyeberang jalan yang di belakangnya tampak kepulanan asap tinggi membubung setelah ledakan di zona industri Fujairah, Uni Emirat Arab, Selasa (3/3).
TERDAMPAK: Seorang wanita menyeberang jalan yang di belakangnya tampak kepulanan asap tinggi membubung setelah ledakan di zona industri Fujairah, Uni Emirat Arab, Selasa (3/3).

LombokPost - Amerika Serikat (AS) terus menuai “buah” serangannya ke Iran. Tak hanya pangkalan militer di sekitar kawasan Teluk Persia yang dihajar Iran sehingga menyebabkan sejumlah serdadunya tewas, sejumlah kedutaan besar (Kedubes) juga bernasib serupa.

Setelah Kedubes AS di Kuwait, Selasa (3/3) giliran Kedubes Negeri Paman Sam tersebut di Arab Saudi yang ditarget drone Iran. Washington DC pun memutuskan menutup sementara sejumlah kantor perwakilan diplomatik mereka di kawasan Timur Tengah.

Mengutip AFP, serangan pesawat tak berawak Iran menyebabkan kebakaran di sebagian gedung Kedubes AS yang berlokasi di Riyadh. Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan evakuasi personel non-darurat dan keluarga di Kuwait serta Bahrain, Irak, Qatar, dan Yordania sebagai tindakan pencegahan.

Dalam website resmi Kedubes AS di Riyadh, sa.usembassy.gov, disebutkan, kegiatan di Arab Saudi ditutup mulai kemarin hingga batas yang belum ditentukan. Semua janji temu rutin dan darurat layanan warga negara AS dibatalkan. Kedutaan juga meminta warga AS tetap di dalam rumah, terutama yang tinggal di Jeddah, Riyadh, dan Dhahran.

Kedutaan Besar Kanada di Riyadh juga menutup sementara kantor. Dalam pengumumannya, penutupan ini terkait dengan situasi keamanan. Janji temu dan keperluan lain akan kembali dilakukan secara tatap muka pada Jumat (6/3) nanti.

Iran memang sudah menegaskan bahwa mereka bakal menyerang all out semua kepentingan AS dan Israel di sekitar Teluk setelah tewasnya pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Larijani juga sudah menegaskan, _aka da negosiasi.

Larang Pakai Bandara

Kedubes AS di Irak juga memerintahkan para staf mereka untuk meninggalkan negara tersebut. Personel pemerintah AS di Baghdad juga dilarang menggunakan bandara internasional karena risiko keamanan.

“Warga negara Amerika harus segera berangkat (meninggalkan Irak),” kata Asisten Menteri Luar Negeri AS Mora Namdar melalui akun X-nya.

Di Israel, Kedubes AS mengumumkan kalau mereka tidak bisa membantu evakuasi warga. Dalam peringatan keamanan yang diunggah secara online, kedubes memberikan informasi tentang bus antar-jemput yang dioperasikan oleh Kementerian Pariwisata Israel ke perbatasan Taba dengan Mesir.

Pada Senin (2/3) waktu setempat, AS memang mendesak warganya untuk segera meninggalkan seluruh wilayah Timur Tengah. “Kepada seluruh warga negara Amerika di Timur Tengah, keselamatan dan keamanan Anda adalah prioritas utama kami,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio seperti dikutip dari Times of Israel.

Sementara itu, komentator politik Amerika Tucker Carlson mengklaim bahwa Arab Saudi dan Qatar telah menangkap dan menahan agen Mossad Israel. Agen tersebut merencanakan pengeboman di negara-negara tersebut. “Mengapa Israel melakukan pengeboman di negara-negara Teluk, yang juga diserang oleh Iran?” kata Carlson tanpa menyebutkan sumber klaimnya, seperti dikutip dari Middle East Eye.

Dia mengungkapkan, bahwa Israel sebenarnya tidak hanya ingin menyerang Iran, tetapi juga Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, Oman, dan Kuwait. Dengan kalimat lain, Israel sengaja menabur kekacauan di antara sekutu-sekutu Arab Amerika.

Hentikan Produksi

Perang Timur Tengah juga berdampak pada sektor energi. Qatar akhirnya menghentikan produksi gas di Ras Laffan, fasilitas ekspor gas alam terbesar di dunia. Alasan penutupan, karena tempat tersebut telah dihantam drone Iran.

Selain itu, kapal tanker sebagian besar berhenti melewati Selat Hormuz. Garda Revolusi Iran memang sudah mengancam, tanker mana saja yang nekat melintas bakal diserang atau dibakar.

Dampaknya, harga gas di Eropa melonjak hingga 39 persen. Ini kenaikan paling tinggi sejak Perang Rusia vs Ukraina. Harga tersebut masih bisa melonjak lagi. Menurut prediksi bank investasi Goldman Sachs, jika Selat Hormuz tidak bisa beroperasi sebulan, harga gas Eropa akan naik dua kali lipat.

Garda Revolusi Iran tak sekadar menggertak. Setidaknya lima kapal tanker sudah mengalami kerusakan, dua kru tewas, dan sekitar 150 kapal terdampar di sekitar selat yang memisahkan Iran dan Oman itu karena nekat melintas.

Bukan hanya gas yang terdampak. Minyak dunia pun terancam. Harga minyak naik di atas USD 79,40 per barel pada Senin (2/3). “Lalu lintas (kapal tanker) turun setidaknya 80 persen,” kata analis intelijen maritim Windward Michelle Bockmann. 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post
Irak kuwait Amerika Serikat Timur Tengah Israel iran luar negeri qatar