
LombokPost - Perang Iran kini menyeret Irak ke dalam pusaran konflik yang semakin dalam. Di negara yang belum pulih dari luka perang masa lalu, ketegangan baru justru membuka kembali retakan lama—baik di level politik, militer, maupun masyarakat.
Irak kini terbelah antara dua arus besar: kelompok yang berharap perang ini mengakhiri pengaruh Iran, dan kelompok lain yang tetap setia pada Teheran.
“Konflik ini memecah hampir semua lini,” demikian laporan gambaran situasi seperti dikutip, Sabtu (4/4).
Kondisi semakin rumit karena Irak sedang berada dalam kekosongan kekuasaan setelah pemimpin sementara Mohammed Shia al-Sudani mundur pasca pemilu.
Tak lama setelah pemimpin tertinggi Iran tewas di awal perang, kelompok bersenjata pro-Iran di Irak langsung bereaksi. Aliansi yang dikenal sebagai “Islamic Resistance in Iraq” bersumpah akan menyeret Amerika Serikat ke perang panjang.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





