Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Trump "Semprot" Sekutu! Klaim AS Tak Butuh NATO hingga Jepang untuk Amankan Selat Hormuz: "Kita Tidak Pernah Membutuhkannya!"

Nurul Hidayati • Jumat, 20 Maret 2026 | 13:11 WIB

Presiden AS Donald Trump. (David Becker/Reuters/Files)
Presiden AS Donald Trump. (David Becker/Reuters/Files)

LombokPost - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu guncangan diplomatik global.

Dalam pernyataan terbarunya pada Selasa (17/3), Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak lagi membutuhkan dukungan angkatan laut dari negara-negara sekutu, termasuk Jepang dan anggota NATO, untuk mengamankan jalur vital Selat Hormuz.

Pernyataan keras ini muncul setelah Trump mengeklaim bahwa militer AS telah mencapai "keberhasilan besar" dalam kampanye militer melawan Iran yang diluncurkan sejak akhir Februari lalu.

Baca Juga: Trump Bilang Israel yang Serang Ladang Minyak Iran, Tapi Iran Tak Boleh Balas Dendam

Kekecewaan Terhadap NATO dan Sekutu Asia

Trump secara terbuka meluapkan kekesalannya terhadap anggota NATO, Australia, Jepang, dan Korea Selatan. Hal ini dipicu oleh rendahnya minat negara-negara tersebut untuk mengirimkan kapal perang ke koridor maritim yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia tersebut.

"Karena kita telah mencapai keberhasilan militer yang begitu besar, kita tidak lagi 'membutuhkan,' atau menginginkan bantuan negara-negara NATO—KITA TIDAK PERNAH MEMBUTUHKANNYA! Demikian juga Jepang, Australia, atau Korea Selatan," tulis Trump melalui unggahan di media sosialnya.

Baca Juga: Trump Kesal, Negara Sekutu Tak Ada yang Membantunya Merebut Selat Hormuz dari Iran

Jepang Terjepit Konstitusi Pasifis

Sentilan Trump ini terasa sangat pedas bagi Jepang, mengingat Negeri Sakura tersebut bergantung lebih dari 90 persen pada impor minyak mentah dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz. Namun, Jepang berada dalam posisi sulit karena Konstitusi Pasifisnya yang melarang pengiriman Pasukan Bela Diri (SDF) ke zona perang.

Ironisnya, perubahan haluan Trump ini terjadi hanya selangkah menjelang pertemuan resminya dengan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, di Gedung Putih yang dijadwalkan pada Kamis mendatang.

Baca Juga: MAGA Terbelah? Greene Tuduh Trump Korbankan Pasukan AS demi Israel

Sentil Ukraina dan Puji Negara Teluk

Tak hanya sekutu Asia, Trump juga menyentil negara-negara Eropa terkait bantuan militer ke Ukraina.

Ia mengeluh bahwa AS telah menyediakan peralatan militer dalam jumlah besar "tanpa biaya" atas permintaan Eropa untuk melawan Rusia, sementara dukungan terhadap operasi di Timur Tengah justru minim dari pihak sekutu Barat.

Sebaliknya, Trump justru memberikan pujian bagi negara-negara di kawasan Teluk.

Ia menyebut Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sebagai "negara-negara hebat" yang telah memberikan dukungan kuat terhadap langkah Amerika Serikat.

Dampak bagi Ekonomi Global

Dengan kondisi Selat Hormuz yang secara efektif masih ditutup oleh Iran pasca-serangan 28 Februari, sikap "jalan sendiri" yang diambil Trump ini diprediksi akan semakin meningkatkan ketidakpastian pasar energi dunia.

Bagi Indonesia, khususnya wilayah yang bergantung pada stabilitas harga energi, eskalasi di Selat Hormuz ini patut diwaspadai karena berpotensi memicu lonjakan harga BBM dan inflasi global jika rantai pasok minyak dunia terus terganggu oleh konflik bersenjata yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Editor : Pujo Nugroho
#selat hormuz #Amerika Serikat #iran #trump #militer