LombokPost - Dunia internasional dibuat terperangah oleh perubahan sikap kilat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Hanya dalam kurun waktu 36 jam, narasi Gedung Putih berubah drastis dari upaya meredam ketegangan menjadi ultimatum perang terbuka yang menyasar jantung ekonomi Teheran: sektor energi.
Perubahan haluan ini dipicu oleh kegagalan negosiasi jalur belakang dan sikap keras Iran yang tetap menutup Selat Hormuz pascaserangan rudal di kawasan Dimona dan Arad pada 22 Maret.
Baca Juga: Trump Mulai Mundur? Operasi Rebut Hormuz Tak Sesuai Rencana
Dari Diplomasi ke Ultimatum Keras
Awalnya, pada Sabtu malam, Trump sempat menunjukkan sinyal untuk menurunkan tensi melalui saluran diplomatik guna menghindari perang nuklir. Namun, memasuki Minggu malam (22/3), nada bicaranya berubah total. Trump mengeluarkan perintah siaga satu bagi komando militer AS di kawasan Teluk.
“Kami memberi waktu yang sangat singkat. Jika Selat Hormuz tidak segera dibuka untuk pelayaran internasional tanpa syarat, maka seluruh infrastruktur energi dan kilang minyak Iran akan menjadi target sah militer kami,” tegas Trump dalam pernyataan resminya yang dikutip.
Selat Hormuz: Urat Nadi yang Tercekik
Langkah berani Trump ini merupakan respon atas terhentinya arus logistik energi dunia. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah menyebabkan harga minyak mentah meroket dan mengancam stabilitas ekonomi negara-negara sekutu AS di Eropa dan Asia.
Trump menganggap penutupan jalur air tersebut sebagai tindakan perang (act of war) yang tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Bagi AS, membiarkan Iran mengontrol urat nadi minyak dunia adalah kekalahan strategis yang tak termaafkan.
Baca Juga: Trump Mulai Ragu Hadapi Iran? Pernyataannya Picu Spekulasi
Reaksi Pasar dan Kekhawatiran Global
Ultimatum 36 jam ini langsung direspon oleh bursa saham global yang memerah.
Para pemimpin dunia, termasuk dari Uni Eropa dan Tiongkok, mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri guna mencegah "Kiamat Energi" yang bisa memicu depresi ekonomi global.
Di sisi lain, sekutu dekat AS seperti Israel dikabarkan telah menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung langkah militer jika ultimatum Trump tidak diindahkan oleh Teheran sebelum tenggat waktu berakhir.
Dampak bagi Konsumen
Gejolak di Washington ini berdampak langsung ke inetrnasional. Jika ancaman serang sektor energi ini benar-benar terjadi, kenaikan harga BBM nonsubsidi dan biaya logistik barang diprediksi akan mengalami lonjakan tajam dalam hitungan hari.
Pemerintah daerah dan masyarakat dihimbau untuk mulai menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi inflasi pangan yang dipicu oleh krisis energi global ini.
Semua sedang memantau jam demi jam, setiap detik sangat berarti bagi perdamaian dunia.
Editor : Akbar Sirinawa