Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Iran Balas Ancaman Trump: Ancam Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Kawasan Jika AS Nekat Menyerang

Nurul Hidayati • Senin, 23 Maret 2026 | 19:15 WIB

Iran luncurkan rudal Sejjil untuk pertama kalinya dalam perang melawan Israel dan AS. (NDTV)
Iran luncurkan rudal Sejjil untuk pertama kalinya dalam perang melawan Israel dan AS. (NDTV)

LombokPost - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini berada di titik nadir yang sangat mengkhawatirkan.

Menanggapi ultimatum Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan meratakan sektor energi Teheran, Pemerintah Iran mengeluarkan serangan balik verbal yang tak kalah mengerikan.

Iran mengancam akan menghancurkan seluruh fasilitas energi di kawasan Timur Tengah jika pangkalan atau infrastruktur mereka diserang.

 Baca Juga: Viral! Animasi “Lego” Iran Angkat Kisah Surah Al-Fil, Singgung Israel dan AS, Picu Kontroversi Global

Ancaman ini menandai babak baru dalam eskalasi konflik yang berpotensi memutus total pasokan minyak dunia secara permanen.

Targetkan Fasilitas Energi Regional

Dikutip dari Antara ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melalui media sosial X menegaskan bahwa mereka tidak akan membatasi medan perang hanya di wilayah kedaulatan mereka.

 Baca Juga: Iran Kirim Pesan Menggetarkan ke Palestina: “Kalian Tidak Sendiri!” Janji Bertahan Hingga Palestina Merdeka

Jika militer AS melancarkan serangan udara ke kilang-kilang minyak Iran, maka seluruh fasilitas produksi dan distribusi energi di negara-negara tetangga yang menjadi sekutu AS atau menampung pangkalan militer AS akan menjadi target sah.

"Setiap peluru yang ditembakkan ke arah fasilitas energi kami akan dibalas dengan kehancuran total pada infrastruktur energi di seluruh kawasan. Kami tidak akan membiarkan siapa pun menikmati keamanan energi jika kami diserang," tegasnya.

Balasan Atas Ultimatum 48 Jam Trump

 Baca Juga: Sikap Trump Berbalik 180 Derajat, Ancam Ratakan Sektor Energi Iran Jika Selat Hormuz Tak Segera Dibuka

Ketegangan ini bermula dari ultimatum 48 jam yang diberikan Trump, yang menuntut Iran segera membuka Selat Hormuz tanpa syarat.

Trump sebelumnya mengancam akan menggunakan kekuatan militer penuh untuk menghancurkan sektor minyak Iran sebagai hukuman atas penutupan jalur laut vital tersebut.

Namun, Iran justru memilih untuk "pasang badan" dengan strategi mutual assured destruction di sektor energi. Dengan mengancam fasilitas energi regional, Iran bertujuan memberikan tekanan balik kepada negara-negara Barat dan sekutunya di Asia agar mencegah AS melancarkan serangan.

Kekhawatiran "Kiamat Ekonomi" Global

Kondisi geopolitik seperti ini memperingatkan bahwa jika ancaman Iran ini terbukti, dunia akan menghadapi "kiamat ekonomi" yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pasokan minyak dari Arab Saudi, Qatar, hingga Uni Emirat Arab berada dalam jangkauan rudal balistik dan drone Iran.

Jika fasilitas energi di seluruh Teluk lumpuh, harga minyak mentah dunia diprediksi bisa menembus angka yang tidak terbayangkan, memicu inflasi global yang tak terkendali dan kelumpuhan industri di berbagai negara.

Imbas bagi Ketahanan Energi

Gejolak global ini kian terasa nyata bagi masyarakat. Mengingat ketergantungan pada distribusi logistik laut yang berbahan bakar minyak, ancaman perang energi ini dapat berdampak.

Ketidakpastian Harga BBM: Potensi penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang bakal mengikuti fluktuasi pasar dunia.

Stabilitas Pasokan Barang: Kenaikan biaya operasional kapal kargo dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar-pasar lokal.

Efisiensi Konsumsi: Kebijakan WFH yang sempat diwacanakan pemerintah nasional menjadi semakin relevan sebagai langkah darurat penghematan energi.

Saat ini, mata dunia tertuju pada jam-jam terakhir tenggat waktu ultimatum Trump. Diplomasi menit-menit terakhir di PBB terus diupayakan guna mencegah pecahnya konflik bersenjata yang bisa melumpuhkan urat nadi energi dunia.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#energi #Amerika Serikat #Timur Tengah #iran #trump