LombokPost-- Dampak perang berkepanjangan di Jalur Gaza mulai menghantam keras perekonomian Israel.
Dalam laporan terbaru yang dikutip Bloomberg, Israel disebut mengalami kerugian lebih dari 57 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp900 triliun selama dua tahun konflik hingga 2025.
Data dari Bank of Israel menunjukkan bahwa kerugian tersebut setara dengan 8,6% dari produk domestik bruto (PDB) tahunan Israel, atau sekitar 177 miliar shekel.
Angka ini menggambarkan betapa besar tekanan ekonomi akibat konflik yang nyaris terus berlangsung.
Menariknya, angka kerugian tersebut belum memasukkan biaya dari konflik terbaru antara Israel dan Iran yang kini memasuki pekan keempat.
Artinya, potensi kerugian ekonomi masih bisa bertambah signifikan dalam waktu dekat.
Pemerintah Israel pun mulai mengambil langkah darurat.
Kabinet telah menyetujui revisi anggaran negara tahun 2026 dengan tambahan dana sebesar 13 miliar dolar AS untuk menutup biaya perang.
Namun, keputusan ini diperkirakan akan memperlebar defisit anggaran sekaligus meningkatkan rasio utang terhadap PDB.
Sejak 2023, rasio utang Israel tercatat melonjak hampir 10% hingga menyentuh angka 70%.
Kondisi ini menjadi sinyal peringatan bagi stabilitas fiskal negara tersebut di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Sementara itu, konflik singkat selama 12 hari dengan Iran pada Juni lalu juga meninggalkan jejak kerugian ekonomi, meski relatif kecil.
Baca Juga: Lima Hari Jadi Tahanan Rumah, KPK Kembali Jebloskan Gus Yaqut Jadi Tahanan Rutan
Bloomberg mencatat perang tersebut menggerus sekitar 0,3% dari PDB Israel.
Dengan tekanan dari berbagai front konflik, ekonomi Israel kini berada di persimpangan krusial—antara kebutuhan mempertahankan keamanan dan menjaga stabilitas keuangan negara.
Editor : Kimda Farida