LombokPost - Presiden Donald Trump menyatakan perang melawan Iran “hampir selesai”, namun tidak memberikan kejelasan bagaimana konflik itu akan benar-benar diakhiri.
Dalam pidato prime time selama 19 menit dari Gedung Putih, Trump mengklaim operasi militer Amerika telah mencapai hampir seluruh tujuannya.
“Kita berada di ambang mengakhiri ancaman Iran terhadap Amerika dan dunia. Kita memegang semua kartu. Mereka tidak punya apa-apa,” ujar Trump, seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (2/4) .
Namun di balik klaim tersebut, arah akhir perang justru semakin dipertanyakan.
Trump hanya menyebut konflik akan berakhir dalam “dua hingga tiga minggu”, tanpa menjelaskan mekanisme de-eskalasi yang konkret.
Baca Juga: Retak di NATO, Macron Kritik Keras Kebijakan Trump
Pidato itu tidak menenangkan pasar global.
• harga minyak melonjak
• saham Asia turun
• kekhawatiran terhadap penutupan Selat Hormuz meningkat
Brent crude naik hampir 5% ke lebih dari $106 per barel, sementara harga bensin di AS menembus $4 per galon—level tertinggi sejak 2022.
Ironisnya, Trump justru kembali meminta negara lain ikut mengamankan jalur energi tersebut.
Ia menyebut Selat Hormuz sebagai jalur yang harus “direbut dan dijaga”.
Baca Juga: Novak Djokovic Jadi Mentor Diam-Diam, Bintang Muda Iva Jovic Bongkar Peran Besarnya di Balik Layar
Trump mengklaim militer Iran telah dihancurkan.
• angkatan laut lumpuh
• angkatan udara melemah
• Iran disebut “bukan lagi ancaman”
Namun di saat yang sama, ia menegaskan:
Amerika akan terus menyerang Iran “dengan sangat keras” dalam beberapa minggu ke depan.
Kontradiksi ini semakin terlihat ketika Trump juga mengatakan bahwa “pembicaraan masih berlangsung”.
Pidato Trump langsung menuai kritik.
Baca Juga: Trump Bantah Intelijennya Sendiri, Retakan Gedung Putih Kian Terbuka
Senator Demokrat Mark Warner menilai publik berhak mendapat jawaban yang lebih jelas.
Ia menyebut Trump belum menjelaskan dampak ekonomi jangka panjang dari perang.
Senator Chris Murphy bahkan lebih tajam:
“Tidak ada satu pun orang di Amerika yang tahu, setelah pidato itu, apakah kita sedang eskalasi atau de-eskalasi.”
Dukungan tetap datang dari kubu Republik.
Baca Juga: Retak di Dalam Gedung Putih, Trump Pertimbangkan Pecat Kepala Intelijen di Tengah Perang Iran
Namun bahkan di internal, suara kritis mulai muncul bahwa pidato tersebut lebih banyak berisi retorika dibanding arah kebijakan.
Meski disebut “hampir selesai”, konflik terus berlangsung:
• serangan menghantam Teheran
• Israel melancarkan gelombang serangan baru
• Iran membalas dengan rudal ke Israel
Serangan bahkan terjadi menjelang perayaan Paskah Yahudi.
Korban terus bertambah:
• ±1.900 tewas di Iran
Baca Juga: Dominan di MotoGP 2026, Marco Bezzecchi Justru Merendah: “Saya Belum Layak Disebut Kandidat Juara”
• ±1.300 tewas di Lebanon
• 19 tewas di Israel
• 13 tentara AS gugur
Lebih dari 12.300 target telah dihantam oleh militer AS dalam operasi Operation Epic Fury.
Sejak awal konflik, tujuan Amerika tidak pernah benar-benar konsisten:
• menghentikan nuklir Iran
• melemahkan militer Iran
• membuka Selat Hormuz
Baca Juga: 810 Calon Haji Mataram Mulai Perjalanan, Ini Pesan Penting Wali Kota
• bahkan “regime change”
Trump sendiri kini meremehkan isu uranium—yang sebelumnya dijadikan alasan utama perang.
Situasi makin rumit ketika Trump mulai menyerang sekutu.
Ia bahkan mempertimbangkan keluar dari NATO dan menyebut aliansi itu sebagai “macan kertas”.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru mempertanyakan legitimasi perang.
“Kepentingan rakyat Amerika yang mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini?”
Baca Juga: Pemkot Mataram Kaji Pembatasan Kendaraan Dinas, ASN Diminta Bersiap
Ia menegaskan Iran hanya bertindak dalam kerangka pertahanan diri.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin