LombokPost - Perang Iran kini menyeret Irak ke dalam pusaran konflik yang semakin dalam. Di negara yang belum pulih dari luka perang masa lalu, ketegangan baru justru membuka kembali retakan lama—baik di level politik, militer, maupun masyarakat.
Irak kini terbelah antara dua arus besar: kelompok yang berharap perang ini mengakhiri pengaruh Iran, dan kelompok lain yang tetap setia pada Teheran.
“Konflik ini memecah hampir semua lini,” demikian laporan gambaran situasi seperti dikutip, Sabtu (4/4).
Kondisi semakin rumit karena Irak sedang berada dalam kekosongan kekuasaan setelah pemimpin sementara Mohammed Shia al-Sudani mundur pasca pemilu.
Tak lama setelah pemimpin tertinggi Iran tewas di awal perang, kelompok bersenjata pro-Iran di Irak langsung bereaksi. Aliansi yang dikenal sebagai “Islamic Resistance in Iraq” bersumpah akan menyeret Amerika Serikat ke perang panjang.
Baca Juga: Penetapan Direksi PT GNE Tunggu Hasil Audit KAP
“Tidak akan ada lagi kehadiran Amerika di kawasan ini, terutama di Irak,” demikian pernyataan mereka.
Sejak itu, serangan demi serangan terjadi.
Basis militer AS di Erbil, Bandara Internasional Baghdad, hingga fasilitas minyak di Basra menjadi sasaran drone dan rudal. Produksi minyak di beberapa ladang besar bahkan sempat dihentikan akibat situasi keamanan.
Sebagai balasan, serangan udara—yang diduga dilakukan oleh Amerika dan Israel—menghantam berbagai posisi milisi pro-Iran di Irak. Sejumlah komandan dan puluhan pejuang dilaporkan tewas.
Konflik ini kini seperti perang bayangan di dalam negeri Irak sendiri.
Baca Juga: Khusee Coffee Tongkrongan Seru di Jantung Praya
Di Mosul, helikopter tempur dilaporkan menyerang pos pemeriksaan. Di gurun barat, unit tentara Irak diserang oleh pihak yang belum teridentifikasi.
Bahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad berulang kali menjadi target serangan.
Situasi ini memperlihatkan satu kenyataan pahit: Irak bukan hanya terdampak perang—tetapi juga menjadi medan tempur baru.
Pemerintah Irak sebenarnya mencoba menjaga posisi netral dengan kebijakan “Iraq First”. Di satu sisi, mereka mengecam pembunuhan pemimpin Iran. Di sisi lain, mereka berupaya menahan kelompok bersenjata agar tidak menyeret negara lebih jauh ke konflik.
Namun upaya ini penuh kontradiksi.
Baca Juga: Merasakan Magisnya Wisata Pantai Nipah
Kelompok pro-Iran tersebut juga merupakan bagian dari Popular Mobilization Units (PMU), yang secara resmi berada di bawah negara, tetapi dalam praktiknya bergerak dengan agenda sendiri.
Mereka menyerang target Amerika atas nama “perlawanan”, tetapi ketika dibalas, justru menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan Irak.
Situasi ini mencerminkan lemahnya kontrol negara.
Bahkan muncul sindiran di masyarakat:
“Irak dibom semua pihak—Amerika, Israel, Iran, bahkan oleh Irak sendiri.”
Tekanan eksternal juga semakin besar.
Amerika Serikat menuding pemerintah Irak gagal mencegah serangan dari kelompok milisi. Sementara di sisi lain, Washington juga terus melakukan operasi militer di wilayah Irak.
Di balik konflik bersenjata, ancaman lain mengintai: krisis ekonomi.
Lebih dari 90 persen anggaran Irak bergantung pada minyak. Gangguan di Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas energi membuat pendapatan negara terancam.
Di parlemen, friksi juga terlihat.
Kelompok politik Syiah yang selama ini dekat dengan Iran mulai menjaga jarak dari faksi militan. Tekanan sanksi dari Amerika membuat mereka khawatir terhadap stabilitas ekonomi—terutama akses terhadap dolar yang vital bagi negara.
Baca Juga: Ini soal AC Milan, Massimiliano Allegri, dan Formasi Baru
Bahkan pencalonan mantan perdana menteri Nouri al-Maliki dibatalkan setelah tekanan langsung dari Amerika Serikat.
“Jika dia terpilih, Amerika tidak akan membantu Irak,” demikian peringatan yang disampaikan Presiden Donald Trump.
Di tingkat akar rumput, situasinya lebih emosional.
Irak memiliki sejarah panjang konflik—dari invasi 2003 hingga perang sektarian. Apa yang terjadi di Iran hari ini terasa seperti déjà vu bagi banyak warga.
Ledakan, bangunan runtuh, keluarga mencari korban—semua itu pernah mereka alami sendiri.
Baca Juga: Prediksi Southampton vs Arsenal: Ambisi Treble Winner Meriam London Diuji Tim Kuda Hitam di FA Cup
Kini, bayangan itu kembali.