LombokPost - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim peluang kesepakatan dengan Iran masih terbuka, bahkan dalam waktu dekat. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyatakan optimisme bahwa kesepakatan bisa tercapai dalam hitungan hari.
“Saya pikir kita bisa mencapai kesepakatan dengan Iran pada hari Senin,” ujar Trump dalam wawancara tersebut, seperti dikutip Minggu (5/4).
Pernyataan ini muncul di tengah ancaman keras yang sebelumnya ia lontarkan, yakni akan mulai membombardir infrastruktur Iran jika jalur Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
Penutupan selat strategis tersebut telah mengguncang ekonomi global. Jalur ini merupakan jalur distribusi sekitar 20 persen minyak dunia, sehingga gangguan langsung berdampak pada lonjakan harga energi, termasuk di Amerika Serikat.
Kondisi ini dinilai berpotensi menjadi tekanan politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November mendatang, terutama karena kenaikan harga energi langsung dirasakan publik domestik.
Baca Juga: Trump Dikecam Keras, Gegara Sumpah Serapahnya di Medsos
Di sisi lain, Trump juga kembali mengklaim adanya kemajuan diplomatik dengan Teheran, meski pihak Iran sebelumnya membantah adanya negosiasi langsung dan menyebut komunikasi hanya berlangsung melalui mediator.
Dalam wawancara yang sama, Trump membuat pernyataan kontroversial terkait dukungan Amerika terhadap demonstran di Iran saat gelombang protes awal tahun.
“Kami mengirim senjata kepada para demonstran, banyak sekali,” kata Trump.
Ia juga menambahkan bahwa distribusi senjata tersebut kemungkinan diambil alih oleh kelompok tertentu.
“Dan saya pikir orang-orang Kurdi yang mengambil senjata itu,” ujarnya.
Baca Juga: Rangkuman Perang Iran vs Amerika-Israel Hari Ini
Pernyataan ini berpotensi memperkeruh situasi, karena menyiratkan keterlibatan langsung Amerika dalam dinamika internal Iran, di tengah konflik militer yang masih berlangsung.
Dengan dua wajah—ancaman militer dan klaim diplomasi—arah kebijakan Washington terhadap Iran kini terlihat semakin kontradiktif dan sulit diprediksi.
“Dan saya pikir orang-orang Kurdi yang mengambil senjata itu,” tutup Trump.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin