LombokPost - Operasi penyelamatan dramatis berhasil mengevakuasi awak kedua jet tempur Amerika Serikat yang jatuh di Iran, setelah misi berisiko tinggi yang melibatkan operasi intelijen terselubung dan serangan udara perlindungan di wilayah musuh.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan awak pesawat F-15E tersebut berhasil diselamatkan dari wilayah pegunungan di Iran barat daya dalam kondisi luka berat.
“Kami telah menyelamatkan anggota kru F-15 yang terluka parah dan sangat berani, dari jauh di dalam pegunungan Iran. Militer Iran mencarinya secara besar-besaran dan hampir menemukannya,” ujar Trump, seperti dikutip Senin (6/4).
Operasi ini menjadi salah satu misi penyelamatan paling berisiko sejak perang dimulai, mengingat wilayah tersebut berada dalam pengawasan ketat militer Iran.
Menurut laporan media AS, misi tersebut melibatkan peran penting Central Intelligence Agency yang menjalankan operasi disinformasi untuk mengecoh pasukan Iran di lapangan.
Baca Juga: Oman Berhasil Buka Negosiasi Hormuz, Diplomasi dengan Iran Bergerak!
CIA disebut menyebarkan informasi palsu seolah-olah lokasi pilot sudah ditemukan lebih dulu, guna mengalihkan perhatian pencarian Iran dari lokasi sebenarnya.
“CIA membutuhkan lebih dari satu hari untuk menemukan posisi awak yang hilang, lalu meluncurkan kampanye disinformasi untuk mengecoh pasukan Iran,” tulis laporan tersebut.
Setelah lokasi berhasil dipastikan, drone tempur Reaper dikerahkan untuk mengamankan area. Drone tersebut dilaporkan menyerang individu yang dianggap ancaman dalam radius tiga kilometer dari posisi korban.
“Drone menyerang target yang dianggap ancaman di sekitar lokasi, guna melindungi awak yang telah ditemukan,” ungkap sumber militer AS.
Namun, operasi ini juga memicu eskalasi di lapangan. Setidaknya lima orang dilaporkan tewas dalam serangan udara AS-Israel di wilayah Iran barat daya selama proses penyelamatan berlangsung.
Baca Juga: Emosi “Tak Stabil”, Trump Diserang Bertubi-tubi!
Di sisi lain, ketegangan kawasan semakin meningkat. Serangan drone Iran menghantam fasilitas energi di Kuwait, menyebabkan kebakaran dan kerugian material signifikan, sementara serangan Israel di Beirut dan Lebanon selatan terus menelan korban sipil.
Militer Israel juga melanjutkan serangan ke berbagai titik, termasuk wilayah sipil, seiring meningkatnya intensitas konflik lintas negara.
Trump menegaskan operasi penyelamatan ini sebagai bukti kemampuan militer AS dalam kondisi ekstrem.
“Jenis operasi seperti ini jarang dilakukan karena sangat berbahaya bagi personel dan peralatan. Ini hampir tidak pernah terjadi,” katanya.
Ia juga memuji pasukannya.
Baca Juga: Amerika Sibuk Perang, Presiden Ukraina Takut Tak Dibantu Trump Lagi
“Ini adalah pertunjukan keberanian dan keahlian yang LUAR BIASA dari semua pihak! Tuhan memberkati para pejuang militer kita!” tutup Trump.