LombokPost--Dinamika ketegangan di kawasan Asia Barat memasuki babak baru setelah Presiden Amerika Serikat menyatakan persetujuannya untuk menggunakan proposal 10 poin yang diajukan Iran sebagai basis negosiasi. Langkah ini diharapkan menjadi jalan tengah guna mengakhiri konflik bersenjata yang tengah berlangsung.
Melansir laporan dari kantor berita Tasnim, Teheran telah merinci poin-poin krusial yang menjadi syarat utama dalam upaya normalisasi situasi keamanan di kawasan tersebut.
Baca Juga: Warga Israel Berlindung di Shelter Saat Sirene Serangan Iran Menggema
Usulan yang diajukan Iran mencakup aspek kedaulatan, ekonomi, hingga kehadiran militer asing. Berikut adalah rincian lengkap dari proposal tersebut:
- Komitmen Non-Agresi: Amerika Serikat pada prinsipnya harus berkomitmen untuk menjamin penghentian segala bentuk agresi.
- Kedaulatan Selat Hormuz: Pengakuan terhadap kontrol berkelanjutan Iran atas jalur strategis Selat Hormuz.
- Hak Nuklir: Penerimaan terhadap hak pengayaan uranium oleh pihak Iran.
- Pencabutan Sanksi Utama: Penghapusan seluruh sanksi utama yang selama ini membebani Iran.
- Pencabutan Sanksi Sekunder: Penghapusan sanksi sekunder yang berdampak pada mitra ekonomi Iran.
- Resolusi Dewan Keamanan PBB: Pengakhiran semua resolusi Dewan Keamanan PBB yang menargetkan Iran.
- Resolusi IAEA: Pengakhiran semua resolusi yang dikeluarkan oleh Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
- Kompensasi Kerusakan: Pembayaran ganti rugi atau kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan pada infrastruktur dan ekonomi Iran.
- Penarikan Pasukan: Penarikan seluruh pasukan tempur Amerika Serikat dari kawasan Asia Barat.
- Gencatan Senjata Multilateral: Penghentian perang di semua front, termasuk terhadap kelompok perlawanan di Lebanon.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei di Qom Saat Diserang? Ledakan Meluas Guncang Iran, Dunia Tahan Napas!
Perubahan Sikap Washington
Diterimanya poin-poin ini sebagai dasar perundingan dinilai oleh para pengamat sebagai pergeseran signifikan dalam kebijakan luar negeri Washington. Langkah Presiden Donald Trump ini dipandang sebagai upaya untuk menghindari eskalasi yang lebih destruktif.
Dengan menerima kondisi-kondisi ini sebagai dasar negosiasi, Trump dinilai telah menarik diri dari retorika keras dan ancaman yang sebelumnya sempat mendominasi hubungan kedua negara.
Meskipun 10 poin ini telah disetujui sebagai dasar awal, proses negosiasi diyakini masih akan menghadapi tantangan berat, terutama terkait mekanisme verifikasi dan implementasi di lapangan. Kehadiran pasukan militer di kawasan dan isu nuklir diprediksi akan menjadi topik paling alot dalam pertemuan-pertemuan diplomatik selanjutnya.
Kini, perhatian dunia tertuju pada langkah konkret yang akan diambil oleh kedua negara untuk mewujudkan stabilitas permanen di kawasan yang tengah dilanda konflik tersebut.
Editor : Redaksi Lombok Post