Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Baru Damai Sebentar, Selat Hormuz Kembali Ditutup Iran usai Serangan Israel ke Lebanon

Akbar Sirinawa • Kamis, 9 April 2026 | 08:17 WIB
Peta Selat Hormuz
Peta Selat Hormuz

 

LombokPost-Iran kembali menutup Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah gencatan senjata dua pekan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel diumumkan. Langkah ini menunjukkan rapuhnya kesepakatan di tengah konflik yang masih berlangsung.

Selat Hormuz menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen minyak dan gas global. Penutupan ini berisiko mengganggu pasokan energi dunia serta memicu gejolak ekonomi global.

Dilansir dari The Washington Post, Kamis (9/4/2026), Iran, AS, dan Israel sebelumnya menyepakati gencatan senjata selama dua minggu. Kesepakatan itu tercapai pada menit terakhir untuk mencegah eskalasi militer lebih luas.

Baca Juga: Israel Gempur 100 Target di Lebanon, Kesepakatan Gencatan Senjata Terancam Runtuh

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat melontarkan ancaman keras dalam proses negosiasi. “Satu peradaban utuh akan mati malam ini dan tidak akan pernah kembali lagi,” jika Iran menolak mencapai kesepakatan, termasuk membuka kembali Selat Hormuz.

Namun, situasi di lapangan tidak sepenuhnya mereda. Hanya beberapa jam setelah kesepakatan diumumkan, laporan serangan kembali muncul pada Rabu (8/4).

Wakil Presiden AS JD Vance menyebut kondisi ini sebagai “gencatan senjata yang rapuh,” serta menekankan pentingnya itikad baik dalam negosiasi lanjutan.

Ketegangan bertambah ketika Israel menyatakan kesepakatan tidak mencakup konflik dengan Hizbullah di Lebanon. Pernyataan ini berbeda dengan mediator seperti Pakistan, Prancis, dan Mesir.

Baca Juga: Trump-Iran Sepakat Gencatan Senjata, Harga Minyak Langsung Terjun Bebas!

Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan, “kesepakatan ini sepenuhnya mencakup Lebanon,” yang menunjukkan adanya perbedaan tafsir di antara pihak terkait.

Di lapangan, serangan Israel dilaporkan masih terjadi di Lebanon selatan, termasuk di wilayah Tyre yang menewaskan warga sipil. Lebih dari satu juta warga Lebanon dilaporkan masih mengungsi.

Seorang pengungsi, Fadi Zaydan, menggambarkan situasi yang dihadapi. “Kami terjebak. Kami tidak tahan lagi hidup dalam ketidakpastian ini.”

Di sisi lain, Iran melaporkan serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan. Insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa.

Ketegangan juga meluas di kawasan Teluk. Kuwait menghadapi serangan drone yang menargetkan fasilitas energi. Uni Emirat Arab mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk mengantisipasi ancaman rudal.

Baca Juga: Blokade Selat Hormuz oleh Iran di Tengah Konflik dengan Amerika Serikat dan Israel Memicu Krisis Energi Global

Reaksi internasional pun bermunculan. Arab Saudi menekankan pentingnya menjaga jalur Selat Hormuz tetap terbuka sesuai hukum internasional.

India juga menyoroti pentingnya kebebasan navigasi demi kelancaran perdagangan global. Uni Eropa bersama Jerman dan Spanyol mendorong agar gencatan senjata ditingkatkan menjadi kesepakatan permanen.

Pakistan mengambil peran sebagai mediator. Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengatakan Iran telah mengonfirmasi kehadiran dalam perundingan dengan AS di Islamabad.

Namun, perbedaan kepentingan masih menjadi hambatan. Amerika Serikat dan Israel menekankan isu program nuklir Iran dan ancaman rudal balistik.

Seorang pejabat Israel menyebut Washington akan “bersikeras menghapus material nuklir dan menghentikan pengayaan uranium,” meski belum ada tanda Iran akan menyetujui tuntutan tersebut.

Dampak konflik ini langsung terasa di pasar global. Harga minyak sempat melonjak sebelum turun lebih dari 13 persen setelah pengumuman gencatan senjata.

Baca Juga: Tenggat Trump Selat Hormuz Hari Ini dan Ancaman Iran ke AS-Israel: Gejolak Baru di Pasar Minyak Dunia

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga menyoroti pentingnya gencatan senjata. “Gencatan senjata adalah langkah tepat menuju akhir perang,” ujarnya.

Situasi ini menunjukkan gencatan senjata dua pekan hanya menjadi jeda sementara. Selama perbedaan kepentingan belum terselesaikan, konflik dan penutupan Selat Hormuz akan tetap menjadi ancaman global.

Editor : Akbar Sirinawa
#iran tutup selat hormuz #selat hormuz #Amerika Serikat #serangan israel #iran