LombokPost-Pemerintah Rusia melontarkan kecaman keras terhadap aksi militer Israel yang terus menggempur wilayah Lebanon. Moskow menegaskan serangan tersebut mencederai upaya gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang seharusnya berlaku secara regional, termasuk mencakup wilayah kedaulatan Lebanon.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyampaikan sikap tegas tersebut melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Pihaknya meyakini bahwa kesepakatan damai yang tengah dirintis tidak boleh bersifat parsial agar stabilitas kawasan benar-benar terjaga.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Retak, Israel Sebut Lebanon Tidak Masuk Kesepakatan
“Moskow dengan tegas meyakini bahwa kesepakatan ini memiliki dimensi regional dan secara khusus berlaku untuk Lebanon," bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia.
Senada dengan itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova memperingatkan dampak destruktif dari berlanjutnya eskalasi militer tersebut.
Menurutnya, serangan masif Israel berisiko memicu konflik yang jauh lebih luas dan menghancurkan fondasi diplomasi yang baru saja terbentuk.
“Tindakan agresif seperti ini mengancam merusak proses negosiasi yang sedang mulai terbentuk,” kata Maria Zakharova.
Pemerintah Rusia kini mendesak agar cakupan gencatan senjata yang disepakati Washington dan Teheran segera diperluas. Posisi ini sejalan dengan tuntutan Iran yang menyatakan Lebanon harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kerangka perdamaian tersebut.
Baca Juga: Baru Damai Sebentar, Selat Hormuz Kembali Ditutup Iran usai Serangan Israel ke Lebanon
Namun, keinginan dunia internasional ini berbenturan dengan kebijakan keras Tel Aviv.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup penghentian operasi militer di Lebanon.
Akibat perbedaan tajam ini, militer Israel terus meluncurkan serangan ke berbagai titik yang diklaim sebagai infrastruktur Hezbollah.
Laporan terbaru menyebutkan gempuran tersebut telah menewaskan lebih dari 250 orang di Lebanon, yang memperparah krisis kemanusiaan di negara tersebut.
Padahal, pengumuman gencatan senjata berdurasi dua pekan yang disampaikan Presiden AS Donald Trump sebelumnya diharapkan menjadi pintu masuk menuju perdamaian permanen.
Kini, tanpa kesepakatan regional yang menyeluruh, Rusia menilai upaya damai tersebut berisiko runtuh sebelum benar-benar dirasakan manfaatnya di lapangan.
Editor : Akbar Sirinawa