LombokPost--Situasi geopolitik global makin memanas. South Korea kini menghadapi tekanan besar setelah puluhan kapalnya tertahan di Selat Hormuz selama berminggu-minggu.
Pemerintah di bawah kepemimpinan Lee Jae-myung langsung bergerak cepat dengan mengirim utusan khusus ke Iran untuk melobi pembukaan jalur pelayaran yang krusial bagi pasokan energi.
Langkah ini diambil setelah Menteri Luar Negeri Korea Selatan melakukan komunikasi langsung dengan pejabat tinggi Iran guna mendesak agar jalur Hormuz kembali aman dilalui kapal-kapal internasional.
Krisis ini bukan main-main. Korea Selatan diketahui mengimpor sekitar 55 persen kebutuhan energinya dari kawasan Timur Tengah.
Bahkan, impor minyak mentah dilaporkan terhenti total, memaksa pemerintah mengajukan anggaran darurat hingga 17,1 miliar dolar AS dan menetapkan situasi sebagai krisis setara kondisi perang.
Namun di tengah upaya diplomasi tersebut, muncul kontroversi yang tak kalah panas.
Baca Juga: Misi Wajib Menang! Prediksi Line Up Arsenal Hadapi Bournemouth di Emirates Stadium
Presiden Lee Jae-myung menjadi sorotan setelah membagikan video di platform X yang menuding tentara Israel Defense Forces melakukan kekerasan terhadap anak Palestina di Gaza.
Komentarnya memicu polemik global karena membandingkan situasi saat ini dengan tragedi kelam dalam sejarah penindasan terhadap bangsa Yahudi.
Pernyataan tersebut dianggap mengejutkan, mengingat Korea Selatan merupakan sekutu dekat United States yang memiliki sekitar 28.000 pasukan di wilayahnya.
Pengamat menilai, pernyataan keras dari seorang kepala negara sekutu utama AS ini mencerminkan perubahan besar dalam cara dunia memandang konflik di Timur Tengah.
Krisis energi dan ketegangan politik kini berjalan beriringan, menempatkan Korea Selatan dalam posisi yang sangat sulit di tengah pusaran konflik global yang terus memanas.
Editor : Kimda Farida