Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ada Keterlibatan Gedung Putih di Balik Inisiatif Pakistan

Redaksi • Sabtu, 11 April 2026 | 11:44 WIB
Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif (IST)
Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif (IST)

LombokPost - Inisiatif Pakistan memediatori gencatan senjata dan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) menuai banyak apresiasi. Bahkan ada yang menyebut negeri yang beribu kota di Islamabad itu berhasil mencegah terjadinya perang nuklir.

Itu jika merujuk kepada ancaman bumihangus Presiden AS Donald Trump kepada Iran, mengembalikannya ke “zaman batu.” Itu jika sampai 7 April mereka tak membuka Selat Hormuz.

Tapi, benarkah itu murni inisiatif Pakistan? Laporan New York Times edisi Kamis (9/4) menunjukkan ada keterlibatan tangan-tangan Gedung Putih di baliknya.

Baca Juga: Hizbullah Serang Permukiman Israel, Balas Pelanggaran Gencatan Senjata

Menurut media terkemuka AS tersebut, saat Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif mencuitkan di akun X-nya pada 7 April permintaan kepada Trump agar memperpanjang tenggat, Gedung Putih yang sebenarnya mendiktekan isinya. Bahkan, di twit awal Sharif yang kemudian dihapus, masih ada kata “draf.”

“Inilah kenapa AS mendukung kudeta terhadap Perdana Menteri Pakistan yang independen Imran Khan dan membantu Shehbaz Sharif, seorang boneka korup AS dari dinasti oligarkis, berkuasa,” tulis Benjamin Norton, editor GeopoliticalEconomy.com, di akun X-nya kemarin (10/4).

Sharif diduga menjadi medium “exit strategy” yang tepat bagi AS tanpa harus kehilangan muka setelah bersama Israel gagal menaklukkan Iran.

 Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Retak, Israel Sebut Lebanon Tidak Masuk Kesepakatan

Negeri Paman Sam itu sudah megap-megap menjalankan operasi militer lewat udara, sedangkan serangan via darat, seperti dinyatakan banyak petinggi militer AS, sama dengan upaya bunuh diri.

Mosi Tidak Percaya

Sharif menjadi PM setelah Imran Khan tumbang akibat mosi tidak percaya di Majelis Nasional Pakistan pada 9 April 2022. AS disebut-sebut berada di balik pergantian rezim itu.

Baca Juga: Israel Gempur 100 Target di Lebanon, Kesepakatan Gencatan Senjata Terancam Runtuh

Khan dikenal sebagai sosok antiperang. Dia mengkritik berbagai pendekatan militeristik AS, mulai dari Iraq sampai Afghanistan. Mantan bintang kriket itu juga kritis terhadap dominasi militer negaranya.

Sebuah resep yang pas bagi AS untuk melakukan penggulingan. Seperti yang mereka lakukan di banyak negara, di antaranya Iraq, Libya, Cile, dan Guatemala.

Setelah Khan terguling, Pakistan menjadi kembali dekat dengan AS. Di sisi lain, Sharif juga menjalin hubungan baik dengan Iran, salah satu negara yang berbatasan langsung dengan negara yang dia pimpin.

Dari awal konflik, Pakistan menempatkan posisinya secara pas. Tidak menyinggung AS, tapi juga tetap dipercaya Iran. Sherif juga konsisten menyuarakan kedua pihak agar melakukan deeskalasi. (ttg/jpg/r1)

Editor : Redaksi
#pergantian rezim #penggulingan #pakistan #Amerika Serikat #iran