LombokPost-Perundingan tingkat tinggi untuk mengakhiri ketegangan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Pakistan berakhir buntu. Wakil Presiden AS JD Vance memutuskan untuk meninggalkan lokasi perundingan tanpa membawa hasil kesepakatan setelah hampir seharian melakukan negosiasi dengan perwakilan Iran.
Vance mengungkapkan bahwa pertemuan maraton tersebut menemui jalan buntu lantaran pihak Iran enggan menerima persyaratan gencatan senjata yang diajukan oleh Amerika Serikat.
“Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat,” ujar Vance kepada wartawan seperti dikutip dari Al-Jazeera, Minggu (12/4).
Baca Juga: Syarat Damai Iran ke Amerika Serikat: Setop Serangan Israel hingga Pencairan Aset Beku USD 6 Miliar
Vance menegaskan bahwa delegasi Amerika Serikat terpaksa pulang dengan tangan hampa. Menurutnya, Iran tidak memberikan persetujuan atas poin-poin krusial yang menjadi keinginan pihak Negeri Paman Sam.
“Jadi, kami kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan. Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa garis merah kami, hal-hal apa yang bersedia kami akomodasi, dan hal-hal apa yang tidak bersedia kami akomodasi. Dan kami telah menjelaskannya sejelas mungkin, dan mereka telah memilih untuk tidak menerima persyaratan kami,” tegasnya.
Meski perundingan tersebut tidak membuahkan hasil, Vance tetap memberikan apresiasi terhadap Pemerintah Pakistan.
Ia menilai Pakistan telah berupaya maksimal menjadi mediator yang menjembatani konflik antara kedua negara tersebut.
Baca Juga: Detik-Detik Menegangkan Jelang Negosiasi Iran-AS
“Terlepas dari kekurangan negosiasi, itu bukan karena pihak Pakistan yang melakukan pekerjaan luar biasa dan benar-benar mencoba membantu kami dan Iran menjembatani kesenjangan dan mencapai kesepakatan,” kata Vance.
Vance juga membeberkan bahwa proses negosiasi tersebut berlangsung sangat intensif dan melelahkan secara waktu.
“Kami telah melakukannya selama 21 jam, dan kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan Iran. Itu kabar baiknya,” pungkas Vance.
Editor : Akbar Sirinawa