LombokPost - Warga di Teheran masih diliputi ketidakpastian meski serangan udara telah mereda.
Gencatan senjata rapuh antara Amerika Serikat dan Iran belum cukup memberi rasa aman, sehingga banyak warga memilih menunda membangun kembali rumah yang hancur akibat perang.
Di kawasan timur Teheran, Sajjad hanya bisa berdiri menatap puing rumah keluarganya yang luluh lantak.
Baca Juga: Iran Tawarkan Pembukaan Selat Hormuz, AS Ngotot Bahas Nuklir
Ia mengaku belum berani memulai pembangunan kembali karena khawatir konflik kembali pecah sewaktu-waktu. “Kalau perang kembali, semua yang dibangun bisa hancur lagi,” ujarnya.
Kondisi tersebut mencerminkan situasi yang dialami banyak warga.
Sejumlah bangunan yang mengalami kerusakan ringan mulai diperbaiki, namun rumah dan gedung yang hancur total masih dibiarkan terbengkalai.
Baca Juga: Garda Revolusi Iran Sita Kapal Israel, Trump Perpanjang Gencatan Senjata
Warga memilih menunggu jaminan keamanan sebelum memulai rekonstruksi.
Selain faktor keamanan, kendala ekonomi juga memperparah keadaan. Seorang arsitek lokal, Mohammad, menyebut biaya pembangunan melonjak tajam akibat terganggunya pasokan material dan melemahnya nilai mata uang. Kerusakan industri domestik serta pembatasan perdagangan membuat harga bahan bangunan semakin tidak terjangkau.
Di sisi lain, trauma psikologis turut menghambat pemulihan. Pemerintah meminta warga terdampak untuk membangun secara mandiri atau menunggu proyek rekonstruksi jika situasi benar-benar stabil.
Baca Juga: Iran Ngamuk! Tolak Mentah-mentah Negosiasi dengan AS, Sebut Upaya Damai Hanya Kedok “Penyerahan”
Krisis tempat tinggal juga dialami Maryam (52), yang kehilangan rumahnya di dekat pusat pemerintahan. Setelah sempat tinggal di hotel yang difasilitasi pemerintah, ia kini harus mencari tempat tinggal baru dengan bantuan terbatas. “Saya tidak tahu bagaimana kami akan melanjutkan hidup,” keluhnya.
Meski aktivitas ekonomi mulai bergerak di beberapa wilayah kota, ketidakpastian masih membayangi. Harga kebutuhan pokok berfluktuasi, sementara distribusi barang terganggu akibat hambatan logistik.
Seorang pedagang, Fereydoun, mengaku kesulitan memastikan pasokan barang di tengah situasi yang belum stabil. “Kami tidak tahu apa yang akan terjadi besok,” katanya.
Dilansir Al Jazeera, ketidakpastian keamanan menjadi alasan utama warga menahan diri untuk membangun kembali rumah mereka, sambil menunggu kepastian bahwa serangan tidak akan kembali terjadi. (lyn/gas/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online