LombokPost--Ketegangan geopolitik di Asia Timur kembali memanas setelah Presiden China, Xi Jinping, dikabarkan akan melakukan kunjungan langka ke Korea Utara pekan depan.
Jika benar terjadi, lawatan ini diyakini bukan sekadar kunjungan diplomatik biasa, melainkan sinyal kuat bahwa Beijing tengah mengatur ulang strategi politiknya di kawasan.
Kunjungan Xi ke Pyongyang tergolong sangat jarang terjadi. Terakhir kali pemimpin China itu datang ke Korea Utara adalah pada tahun 2019.
Bahkan sebelum kunjungan tersebut, tidak ada pemimpin tertinggi China yang menginjakkan kaki di negara itu selama 14 tahun.
Pengamat internasional menilai, setiap kunjungan Xi ke Korea Utara selalu membawa pesan politik besar.
Situasi global saat ini disebut menjadi alasan utama di balik rencana pertemuan tersebut.
Baca Juga: Susu Kuda Liar Sumbawa Diawasi Ketat, Kemenkum NTB Jaga Reputasi Produk Khas Mendunia
Hubungan Amerika Serikat dan China masih memanas, terutama terkait perang dagang dan rivalitas pengaruh global.
Di sisi lain, mantan Presiden AS Donald Trump terus melontarkan tekanan keras terhadap Beijing dalam isu perdagangan dan ekonomi.
Tak hanya itu, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un juga belakangan disebut semakin dekat dengan Rusia.
Kedekatan Pyongyang dan Moskow membuat China diyakini mulai khawatir kehilangan pengaruh strategisnya di Semenanjung Korea.
Karena itu, kunjungan Xi dipandang sebagai langkah penting Beijing untuk menegaskan bahwa China masih menjadi sekutu utama sekaligus “kakak besar” bagi Korea Utara.
Jika kunjungan ini benar terlaksana, dunia diperkirakan akan menyoroti arah baru hubungan China-Korea Utara di tengah memanasnya persaingan kekuatan global.
Banyak pihak juga menunggu apakah pertemuan Xi dan Kim Jong Un akan memicu perubahan besar dalam peta politik Asia Timur.
Editor : Kimda Farida