LombokPost – Pasar komoditas energi global kembali membara. Eskalasi militer terbaru yang melibatkan serangan Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah target strategis di dalam wilayah Iran sukses memicu efek kejut, yang mendongkrak kembali harga minyak mentah dunia pada sesi perdagangan Rabu (10/6).
Merujuk data pasar finansial Investing, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juli meroket sebesar 1,22 persen ke level USD 89,27 per barel.
Tren lonjakan ini juga diikuti oleh kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent yang ikut terkerek naik sebesar 0,34 persen.
Baca Juga: IRGC Laporkan 26 Kapal Melintasi Selat Hormuz di Bawah Pengawasan Ketat
Padahal, melansir laporan Reuters, pada perdagangan Selasa (9/6) sehari sebelumnya, harga minyak sempat melandai ke level terendah sejak akhir April. Pelonggaran harga itu sempat terjadi setelah Israel dan Iran sepakat menghentikan aksi saling serang secara langsung atas desakan diplomatik Donald Trump.
Namun, gencatan senjata psikologis itu ambruk seketika. Ketegangan baru justru meletup setelah Israel menolak mentah-mentah tuntutan untuk mengakhiri kampanye militernya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.
Merespons sikap tersebut, Teheran langsung mengeluarkan ancaman bakal melanjutkan permusuhan bersenjata secara terbuka.
Baca Juga: Wapres Iran Tegaskan Kedaulatan Penuh Terhadap Selat Hormuz, Izinkan Kapal Tiongkok Melintas
Selat Hormuz Tersumbat, Jalur Logistik Dunia Tercekik
Sumbu utama yang paling ditakuti pelaku pasar komoditas saat ini adalah ancaman kelangkaan pasokan fisik (supply disruption). Peta geopolitik di jalur laut kini kian rumit dan berada dalam kondisi darurat.
Blokade Iran: Pemerintah Teheran nekat melanjutkan aksi blokade sepihak terhadap sebagian besar lalu lintas kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Padahal, selat ini merupakan urat nadi vital yang melayani seperlima (20 persen) kebutuhan pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) seluruh dunia.
Baca Juga: Kapal Perang AS Bersiap Kawal Tanker di Selat Hormuz, Setelah Proposal Damai Ditolak Iran
Kontra-Blokade AS: Sebagai aksi balasan, Washington giliran menerapkan sanksi blokade total terhadap pelabuhan-pelabuhan ekspor utama milik Iran guna memotong aliran pendapatan negara sekutu Rusia tersebut.
Stok Domestik AS Jebol Delapan Minggu Berturut-turut
Tekanan kenaikan harga kian diperparah oleh rilis data internal dari dalam negeri Paman Sam. Laporan inventori menunjukkan persediaan minyak mentah domestik AS merosot tajam sebanyak 9,12 juta barel pada pekan yang berakhir 5 Juni 2026 kemarin.
Catatan Kritis Persediaan Energi:
Penurunan ini menandai rapor merah anjloknya cadangan minyak AS selama delapan pekan berturut-turut. Di saat yang sama, persediaan bensin komersial di sana juga ikut menipis sebanyak 1,19 juta barel.
Pasar energi global tengah menghadapi tekanan serius menyusul merosotnya indikator pasokan energi di Amerika Serikat pada pekan akhir 5 Juni 2026. Stok minyak mentah domestik AS mencatat penurunan drastis hingga 9,12 juta barel, yang sekaligus memperpanjang tren negatif berupa koreksi beruntun selama delapan minggu berturut-turut. Kondisi ini diperparah oleh persediaan bensin yang ikut menyusut sebesar 1,19 juta barel. Penipisan cadangan bahan bakar ini memicu kekhawatiran karena terjadi tepat di tengah tingginya permintaan musiman, sehingga memperbesar status risiko pengetatan pasokan di tingkat global.
Kombinasi menipisnya stok kilang domestik AS ini memicu kekhawatiran massal di pasar Eropa dan Asia. Pasalnya, selama konflik timur tengah ini pecah, AS bertindak sebagai pemasok marjinal utama yang menutup lubang pasokan ke Asia dan Eropa. Jika stok mereka sendiri jebol, arus ekspor global dipastikan terganggu dan berpotensi menyeret harga minyak mentah menembus level psikologis baru di atas USD 90 per barel dalam waktu dekat.
Editor : Redaksi Lombok Post Online