LombokPost - EMPAT tahun sudah Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan koalisi di belakangnya menjalani gencatan senjata dengan Kelompok Houthi yang didukung Iran.
Namun, kini keduanya berada di ambang episode perang baru.
Mengutip AFP pada Rabu (15/7), pemicunya adalah aksi saling serang bandara. Diawali serangan militer Yaman ke Bandara Sanaa yang akan didarati delegasi Houthi yang baru pulang melayat ke Iran.
Pesawat akhirnya harus mendarat di bandara lain.
Houthi membalas serangan tersebut pada Ahad (13/7) malam waktu setempat dengan menembakkan misil ke Bandara Abha, kota di bagian selatan Saudi.
Itulah serangan besar pertama Houthi ke wilayah Saudi sejak 2022.
“Saya pikir dampak saling serang ini bakal besar. Bisa dibilang, gencatan senjata empat tahun terakhir telah berakhir,” kata Farea Al-Muslimi, periset di Chatam House, think tank yang berbasis di London, Inggris, kepada AFP.
Arab Saudi disebut akan membalas serangan Houthi itu. “Infrastruktur sipil Saudi dalam kondisi siaga,” kata seorang sumber kepada AFP.
Houthi sudah mengancam, misil dan drone akan terus diluncurkan ke wilayah Saudi selama Bandara Sanaa dijadikan sasaran serangan.
Baca Juga: Harga Murah Picu Peredaran Rokok Ilegal Marak di Lombok Timur
Kelompok tersebut juga melarang penerbangan sipil menggunakan wilayah udara negeri monarki itu.
Dampak Perang AS vs Iran
Konflik terbaru Saudi vs Houthi ini tak lepas dari dampak perang antara AS dan Iran. Konflik tersebut juga dapat semakin membuat situasi Timur Tengah tidak stabil.
Iran yang menyerang berbagai fasilitas militer AS di negara-negara tetangganya menantang hegemoni koalisi di balik Saudi. Hal tersebut diwujudkan dengan mengirim pesawat ke Sanaa untuk menjemput delegasi Houthi tanpa meminta izin.
Selama lebih dari satu dekade, pesawat yang akan memasuki wilayah udara Yaman harus meminta izin kepada Saudi dan koalisi di belakangnya. Saudi terlibat dalam konflik antara Pemerintah Yaman dan Houthi sejak 2015, setahun setelah perang saudara itu meletus.
Mohammed al-Basha, analis dari Basha Report yang berbasis di AS, menyebut, kedua pihak sebenarnya masih terus berunding. “Tapi, keduanya juga siap berperang kalau pembicaraan buntu,” katanya. (lyn/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Lombok Post