Pentagon Minta Tambahan USD 1,5 Triliun, AS Akan Kirim Pasukan Darat

Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 13:28 WIB
Pete Hegseth (AFP)
Pete Hegseth (AFP)

LombokPost - Biaya perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran terus membengkak.

Pemerintah AS kini memperkirakan konflik yang berlangsung sejak Februari 2026 itu telah menghabiskan dana USD 37,5 miliar atau sekitar Rp 609 triliun.

Dilansir dari Al Jazeera, angka tersebut disampaikan Menteri Pertahanan Amerika Pete Hegseth saat memberikan keterangan dalam sidang Komite Alokasi Anggaran Senat Amerika Selasa (21/7) waktu setempat.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Bisa Naik Lagi, Amerika Serikat Tetap Berkomitmen pada Perdamaian

Hegseth bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine juga mengajukan anggaran pertahanan sebesar USD 1,5 triliun atau setara Rp 26,8 kuadriliun, termasuk hampir USD 70 miliar yang dialokasikan khusus untuk perang melawan Iran.

"Angka tersebut mencakup biaya operasi militer serta pemeliharaan hingga akhir September 2026," kata Hegseth saat menjawab pertanyaan Senator Partai Demokrat Dick Durbin.

Nilai terbaru itu meningkat sekitar USD 8 miliar dibandingkan estimasi yang dirilis pemerintahan Presiden Donald Trump pada Mei lalu, yakni sebesar USD 29 miliar.

Baca Juga: 500 Kapal Antre Lewati Selat Hormuz, Amerika Serikat dan Iran Sepakat Berdamai

Meski demikian, sejumlah lembaga menilai biaya sebenarnya jauh lebih besar. Moody's Analytics memperkirakan dampak ekonomi domestik perang dapat mencapai USD 150 miliar apabila memperhitungkan kenaikan harga energi dan efek lanjutan terhadap perekonomian Amerika.

Pada Senin (20/7), Trump menegaskan Iran akan membayar karena dua tentara Amerika tewas dalam serangan selama akhir pekan.

Dalam beberapa hari terakhir, Trump juga mengancam akan menyerang fasilitas energi dan jembatan di Iran.

Baca Juga: Situs Sejarah Diserang, Iran Siap Gugat Amerika Serikat dan Israel ke Jalur Hukum Internasional

Selain itu, AS akan mengirim pasukan darat untuk merebut Pulau Kharg, hingga membombardir fasilitas bawah tanah yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain.

Sejauh ini, serangan Amerika banyak menyasar lokasi-lokasi strategis yang digunakan Iran untuk mempertahankan pengaruhnya di Selat Hormuz.

Iran menegaskan akan terus menyerang aset-aset milik Amerika di kawasan Timur Tengah. Serangan terbaru dilaporkan menyebabkan fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi di Kuwait terbakar, sementara sejumlah sasaran di Bahrain dan Yordania juga terkena serangan.

Kelompok Houthi di Yaman turut mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. (lyn/gas/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
ekonomi domestik Amerika Serikat iran militer Donald Trump