LombokPost– Pendiri Amazon, Jeff Bezos, mulai membawa ambisi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ke sektor manufaktur.
Perusahaan AI yang ia dirikan bersama Vik Bajaj, Project Prometheus, dilaporkan telah menyewa fasilitas seluas 100.000 kaki persegi di kompleks American Steel, West Oakland.
Melansir laporan San Francisco Business Times, perjanjian sewa properti yang berlokasi di 1960 Mandela Parkway tersebut terungkap melalui catatan publik. Fasilitas ini diperkirakan bakal difungsikan sebagai lokasi manufaktur fisik, bukan sekadar kantor riset tambahan.
Hingga kini, pihak Prometheus maupun pemilik properti belum memberikan pernyataan resmi terkait transaksi tersebut, sebagaimana dilaporkan stasiun radio publik San Francisco Bay Area, KALW.
Didirikan pada November 2025 dengan suntikan dana mencapai 18 miliar dollar AS (sekitar Rp 321 triliun), Prometheus berfokus mengembangkan teknologi AI yang dirancang untuk mempercepat proses penemuan hingga pembuatan produk fisik.
Dalam wawancara bersama CNBC, Bezos menekankan pentingnya inovasi dan penemuan dalam mendorong kemajuan ekonomi.
”Apa yang mendorong kekayaan suatu bangsa? Apa yang mendorong kemakmuran peradaban? Jawabannya adalah penemuan,” kata Bezos.
Bezos menilai bahwa gagasan AI di bidang rekayasa teknik yang dahulu sekadar impian, kini telah menjadi realitas yang dapat diwujudkan secara teknis.
”Gagasan untuk membangun seperangkat alat yang benar-benar mampu melakukan rekayasa, layaknya seorang insinyur artifisial atau insinyur umum artifisial, telah menjadi impian selama puluhan tahun. Namun, sebelumnya hal itu tidak pernah benar-benar mungkin. Sekarang, hal itu mungkin dilakukan,” bebernya.
Berbeda dengan model AI konvensional yang berfokus pada pemrosesan teks dan data digital, Prometheus membangun sistem yang dinamakan artificial general engineer.
Sistem ini dirancang untuk belajar melalui eksperimen fisik dan uji coba langsung guna memangkas durasi pengembangan berbagai produk teknologi tinggi, seperti cip semikonduktor, mesin jet, baterai, panel surya, hingga produk farmasi.
Prometheus—yang saat ini mengantongi valuasi sekitar 41 miliar dollar AS (sekitar Rp 732,3 triliun)—memproyeksikan potensi "ekonomi fisik" di sektor ini dapat mencapai 70 triliun dollar AS. Kendati demikian, angka tersebut merupakan gambaran ambisi internal perusahaan dan belum diverifikasi secara independen oleh lembaga pasar.
Langkah ekspansi Prometheus di West Oakland bertepatan dengan pergerakan perusahaan milik Elon Musk, Tesla, yang juga menandatangani kontrak sewa fasilitas manufaktur maju di wilayah yang sama kurang dari sepekan sebelumnya.
Kehadiran dua raksasa teknologi ini memberikan dampak positif bagi kawasan Oakland dalam bentuk potensi pembukaan lapangan kerja baru serta stimulasi aktivitas ekonomi kawasan.
Namun, di sisi lain, peningkatan aktivitas manufaktur teknologi ini juga memicu perhatian publik terkait dampak lingkungan di wilayah sekitar.
Editor : Redaksi Lombok PostSumber : Jawa Pos