LombokPost--Bencana dahsyat mengguncang kawasan Himalaya.
Runtuhnya gletser atau es dan batu disebut sebagai pemicu banjir bandang dan aliran lumpur yang menerjang sejumlah wilayah di sepanjang perbatasan Nepal-Tiongkok.
Sedikitnya 273 orang tewas, sementara lebih dari 1.300 orang masih hilang.
Bencana ini terjadi pada Rabu (26/8), sekitar pukul 08.40 waktu setempat. Dilansir dari The Guardian, Kamis (27/8), bencana ini awalnya sempat diduga lantaran akibat gempa bumi.
Namun, analisis lanjutan US Geological Survey (USGS) menyimpulkan bahwa sumber getaran tersebut bukan gempa, melainkan runtuhan gletser atau longsoran es dan batu berkekuatan setara magnitudo 5,2.
Kejadian ini kemudian memicu aliran air, lumpur, dan puing dalam jumlah sangat besar.
Dahsyatnya aliran air terlihat dari kenaikan permukaan Sungai Trishuli.
Dalam waktu hanya 30 menit, permukaan air di salah satu titik sungai tersebut melonjak hingga 9 meter.
Baca Juga: Dari Pekarangan, Suli Mekar Raih Juara P2L Kota Mataram Tahun 2026
Desa Soley di Nuwakot menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan terparah. Desa yang dihuni sekitar 25 keluarga itu hampir seluruhnya hancur.
Nirajan Paudyal, jurnalis yang berbasis di Kathmandu, bahkan mendatangi desa tersebut untuk mencari kabar orang tua dan kerabatnya.
“Hingga saat ini belum ada perkembangan terbaru. Saya khawatir tidak akan ada perkembangan terbaru,” kata Paudyal.
Tim penyelamat dikerahkan untuk mencari korban yang masih hilang.
Sejauh ini, helikopter jadi andalan karena banjir dan longsor merusak puluhan jembatan serta hampir 40 kilometer jalan di Nepal, seperti mengutip dari The Associated Press (AP), Kamis (27/8).
Di Nepal, otoritas mencatat sedikitnya 270 orang meninggal dan 826 orang hilang. Sementara di Tibet, tiga orang tewas dan 558 lainnya masih belum ditemukan.
Tidak Ada WNI Terdampak
Direktur Perlindungan WNI, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Heni Hamidah mengatakan, Kemlu melalui KBRI Dhaka dan KBRI Beijing telah memantau perkembangan situasi pasca banjir bandang di wilayah perbatasan Nepal–Tibet.
Baca Juga: Landfill Kebon Kongok Penuh, Mataram Kejar Landfill 3
Koordinasi dengan jejaring komunitas WNI serta Konhor RI di Kathmandu pun telah dilakukan dalam merespons bencana yang terjadi.
Dari koordinasi tersebut, diipastikan saat ini belum ada WNI yang jadi korban di sana.
“Hingga saat ini, berdasarkan pemantauan dan komunikasi dengan pihak terkait, belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat sekitar 45 WNI di Nepal. Kebanyakan dari mereka berdomisili di Kathmandu dan bekerja di sektor perhotelan.
Heni mengaku, KBRI Dhaka telah memberikan perhatian khusus terhadap WNI yang berada di Nepal sebagai wisatawan, khususnya yang melakukan kegiatan pendakian.
Baca Juga: Gubernur Miq Iqbal Titip Desa Berdaya dan Hutan NTB kepada Babinsa
“KBRI Beijing dan KBRI Dhaka juga telah mengeluarkan imbauan untuk seluruh WNI agar meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan otoritas setempat, menghindari wilayah terdampak, serta memantau informasi melalui sumber resmi,” ungkapnya. (mia/gas/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida
Sumber : Jawa Pos