
LombokPost – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB coba mengawal hilirisasi komoditas porang.
Sekaligus membedah kesiapan NTB menembus pasar global dan merumuskan solusi atas ancaman kelangkaan bahan baku yang berpotensi memperlambat laju hilirisasi daerah.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB H Lalu Wiranata mengatakan, pabrik pengolahan lokal NTB telah siap.
Pabrik itu mampu mengolah porang menjadi keripik (chips) dan tepung berstandar ekspor. Rencananya, produk turunan porang ini akan diekspor ke Tiongkok.
Kepatuhan regulasi global pun telah dipenuhi. Mulai dari sertifikasi Good Agricultural Practices (GAP), perizinan Packing House, hingga registrasi kepabeanan GACC Tiongkok.
Industri lokal bahkan telah menjadwalkan pengiriman ekspor perdana sebanyak 4 kontainer dengan volume 92–100 ton.
Namun, di balik kesiapan infrastruktur industri tersebut, muncul ancaman serius pada stabilitas rantai pasok.
Di antaranya, kehadiran pabrik dan offtaker lokal memicu lonjakan harga porang di tingkat petani secara drastis.
“Harganya melambung tinggi dari Rp 4.500 per kilogram menjadi Rp 11.000 hingga Rp 12.500 per kilogram,” ujarnya, Rabu (5/8).
Fenomena harga yang sangat menggiurkan ini mengundang masuknya pembeli dari luar daerah. Mereka secara agresif memborong porang petani, bahkan sebelum memasuki masa panen optimal.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




