LombokPost– Mesin industri Tiongkok mulai kembali menguat. Produksi industri pada Agustus 2026 tumbuh 5,2 persen secara tahunan, naik dari 4,5 persen pada Juli.
Capaian tersebut juga lebih tinggi dibandingkan proyeksi 4,8 persen dari jajak pendapat Reuters terhadap 42 analis. Namun, pemulihan ekonomi Negeri Panda itu masih tertahan lemahnya konsumsi dan investasi.
”Penguatan sektor industri menunjukkan manufaktur masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Tiongkok. Namun, kinerja tersebut belum diikuti perbaikan permintaan domestik,” pernyataan Biro Statistik Nasional Tiongkok (NBS) yang dikutip Reuters kemarin (15/9).
Penjualan ritel yang menjadi indikator aktivitas konsumsi masyarakat hanya tumbuh 0,4 persen pada Agustus. Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan 0,6 persen pada Juli dan jauh di bawah ekspektasi analis sebesar 0,8 persen.
Perlambatan itu menunjukkan kepercayaan dan belanja masyarakat Tiongkok masih menghadapi tekanan. Padahal, penguatan konsumsi domestik menjadi salah satu kunci bagi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap sektor industri dan ekspor.
Tekanan juga terlihat pada investasi. ”Investasi aset tetap Tiongkok turun 7,2 persen dalam delapan bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” imbuh NBS. Kontraksi tersebut sesuai dengan perkiraan analis, tetapi lebih dalam dibandingkan penurunan 6,7 persen pada periode Januari–Juli.
Data tersebut menunjukkan pemulihan ekonomi Tiongkok masih berjalan tidak merata. Sektor industri mampu mencatat pertumbuhan lebih kuat, sementara konsumsi rumah tangga dan investasi justru menjadi titik lemah. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah Xi Jinping yang tengah berupaya menopang pertumbuhan ekonomi melalui berbagai kebijakan. Fokusnya antara lain mendorong permintaan domestik dan menghidupkan kembali investasi.(bil/dio)