Selain kemasan, ia juga melakukan inovasi pada nama dan rasa olahan paru miliknya. Pacar, singkatan dari Paru Cetar, dipilih menjadi nama baru produk tersebut. Dengan varian rasa pedas, asin, dan barbeque. ”Saya harap dengan inovasi nama dan rasa tersebut bisa memperluas lagi sasaran konsumennya. Tak hanya orangtua, anak muda juga tertarik mencoba Pacar,” katanya.
Dibutuhkan waktu dua hari untuk proses pembuatan Pacar. Mulai dari perebusan, frozen, pengirisan, hingga siap dinikmati. Kini, produknya sudah dipasarkan hingga ke seluruh Indonesia melalui sosial media. Seperti di Kota Makassar, Surabaya, Dompu, Kendari sebagai reseller tetap. Produk ini juga terjual di beberapa supermarket dan toko oleh-oleh. ”Pacar memiliki tiga rasa dengan kemasan unik. Saya rasa itu yang menjadi ciri khasnya sehingga produk ini selalu diincar konsumen,” ujar wanita yang juga menjadi anggota Lombok Womanpreneur Club ini.
Sekali produksi, ia biasa mengolah 10-15 kilogram paru sapi hingga menjadi 200-250 bungkus Pacar. Ia mematok harga mulai dari Rp 10.000 untuk para reseller dengan minimal order 25 bungkus. Dan Rp 13.000 untuk eceran. ”Saat ini belum ada karyawan. Jadi setiap proses pengolahan produknya hanya dibuat bertiga bersama suami dan ibu yang memantau.” ujarnya.
Produknya juga pernah memenangkan kompetisi UKM Brilian sebagai lima besar produk terbaik. (eka/r9) Editor : Baiq Farida