Saat ini sudah ada 530 nasabah Bank Sampah NTBM. Semuanya berasal dari kawasan Ampenan. Ia tidak menerima nasabah jauh agar masyarakat kawasan lain bisa membentuk bank sampahnya sendiri dan mandiri.
”Seratus lembar sampah seharga Rp 1.000. 1000 lembar sampah sudah Rp 10.000. Tapi tidak worth it dengan bensin perjalanan ke sini. Lebih baik mereka membentuk bank sampahnya sendiri. Jadi kalau ada pesanan, kita saling pesan ke bank sampah masing-masing. Tidak perlu tunggu dulu tabungan sampah masyarakat,” jelasnya.
NTBM menerima setoran sampah anorganik setiap Rabu. Rata-rata terdapat 5-6 kilogram sampah dalam dua minggu. Dia menggandeng sembilan orang pekerja dari kalangan disabilitas dan pengangguran lama.
Di tangan mereka, sampah disulap menjadi lebih dari 250 item kerajinan berbeda. seperti tas, dompet, keranjang, tempat pensil, dan souvenir lainnya. Harga jual mulai dari Rp 25.000 hingga Rp 1.000.000 untuk satu produk. Terjual di pasar lokal hingga Internasional. Tong komposter misalnya, dalam sebulan saja bisa terjual hingga 50 buah dengan harga Rp 750.000.
”Pasar ekspor, lebih berani bayar mahal. karena yang saya jual tak hanya produk, tapi juga proses panjang pembuatannya sebelum menentukan harga penjualan,” katanya.
Meningkatkan pasar, NTBM bekerjasama dengan beragam perusahaan agen perjalanan. Pendaftaran masuk Rp 1.500.000 per grup. Travel agen biasa membawa 28-40 orang wisatawan. Mulai dari kalangan keluarga, hingga studi banding sekolah dan universitas, baik dalam maupun luar negeri.
”Wisatawan pasti belanja, berapapun harganya. Dari situlah keuntungan bisa didapat hingga Rp 70.000.000 per bulan,” ujar wanita berambut pendek ini.
Hairil Zidan, salah satu warga Pejeruk nasabah NTBM mengatakan cukup terbantu dengan adanya bank sampah di lingkungan sekitar rumahnya.
”Kumpulin sampah, bisa dapat tabungan. Lumayan untuk mengisi waktu luang selama beraktifitas di rumah saja,” kata mahasiswa STMIK Bumi Gora ini. (eka/r9) Editor : Baiq Farida