Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harga Jual Anjlok, Pembudidaya Lobster di NTB Kelimpungan

Baiq Farida • Rabu, 2 September 2020 | 14:24 WIB
BERKUALITAS: Salah satu pengunjung sedang melihat hasil tanaman hidroponik produksi Dinas Pertanian Lombok Tengah, Minggu (23/8/2020).
BERKUALITAS: Salah satu pengunjung sedang melihat hasil tanaman hidroponik produksi Dinas Pertanian Lombok Tengah, Minggu (23/8/2020).
SELONG-Memasuki masa panen, harga lobster jenis pasir maupun mutiara anjlok. Pembudidaya lobster makin kelimpungan karena harga bibit malah melambung. Keluhan ini diungkapkan Abdullah, ketua Kelompok Usaha Budidaya Andalan Indonesia di Telong-elong, Jerowaru, Lombok Timur.

Dikatakan, dulunya harga jual lobster pasir Rp 350.000 – Rp 400.000 per kilogram. Untuk jenis mutiara Rp 400.000 – Rp 750.000 ukuran 300 up. ”Bahkan satu kilogram bisa terjual Rp 1 juta,” katanya mengenang momen indah.

Kini, untuk lobster pasir harganya hanya Rp 180.000 per kilogram ukuran 170 up. Untuk mutiara pun harganya ikut berkurang. Yakni Rp 300.000 hingga Rp 500.000 saja ukuran 300 up, dan Rp 400.000 untuk ukuran 500 up. ”Kalau begini terus, bisa mati kita para pembudidaya. Penyebabnya karena kelangkaan bibit lobster, ditambah masa pandemi Covid-19. Keramba sudah banyak yang kosong sejak dua bulan terakhir,” katanya.

Para pembudidaya sudah menunggu panen sejak Juni lalu. Biasanya harga jual akan naik di Bulan Agustus dan Desember. Namun kenyataannya, hingga kini harga yang naik hanya Rp 20.000 saja.

”Ada sebagian yang masih tahan barang karena menunggu bibit. Teman-teman yang sudah menjual duluan mungkin sudah tak punya bibit lagi sekarang,” keluhnya.

Kalaupun ada bibit, harganya sangat mahal. Pihaknya coba menyediakan namun jumlahnya sangat terbatas. Satu hari hanya datang 50-60 ekor, sedangkan kebutuhan mereka jauh lebih banyak. Penyebabnya, kelangkaan akibat ekspor bibit lobster.

”Saat ini harga bibit jenis mutiara Rp 20.000, sedangkan pasir Rp 7.000 per ekor. Padahal dulu hanya Rp 5.000 hingga Rp 10.000 untuk mutiara dan Rp 1.000 hingga Rp 2.000 untuk lobster jenis pasir,” kenangnya.

Seluruh pembudidaya lobster kini kalang kabut mencari bibit. Jika ekspor terus-terusan dibuka, dia khawatir budidaya lobster dalam negeri nantinya hanya tinggal cerita.

”Menurut juknis (petunjuk teknis) yang diterbitkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), eksportir hanya boleh mengekspor 30 persen hasil tangkapan. Kenyatannya di lapangan, hampir 99 persen hasil diekspor semua,” katanya.

Hal yang sama diungkapkan Muhsin, salah satu pemilik kelompok budidaya lobster di Desa Pare Mas, Teluk Jor, Jerowaru, Lombok Timur. Ia mengaku sudah mencari bibit hingga ke nelayan di wilayah Dompu, Bima, dan Sumbawa. Namun jumlahnya minim. Sebab yang ditangkap adalah bibit lobster bening untuk diekspor. Padahal pembudidaya lobster NTB kesulitan untuk pengolahan bentuk bibit jenis ini.

”Kemungkinan hidupnya minim. Para petani bingung mengolahnya seperti apa. Tidak seperti di luar negeri yang punya teknologi dan penemuan canggih untuk melakukan mutasi pada bibit bening tersebut,” ujar Muhsin.

Ia berharap perusahaan eksportir taat aturan. Melaksanakan kegiatan pembudidayaan lobster dengan melibatkan masyarakat atau pembudidaya setempat. Hal ini sesuai dengan aturan tertulis di Permen KP Nomor 12/Permen-KP/2020.

”Sampai saat ini implementasi di lapangan masih sangat minim. Kami bingung, apa memang tidak ada binaan sesuai aturan, atau belum. Kalau belum, kami tunggu sampai kapan? Padahal sangat banyak benih ini yang sudah dieskpor,” imbuhnya. (eka/r9)

 

  Editor : Baiq Farida
#Budi Daya #Harga Anjlok #bibit lobster #NTB