”Jumlah indeks harga yang diterima petani meningkat 0,10 persen. Sedangkan indeks harga yang dibayar petani menurun sebesar 0,35 persen,” katanya dalam dalam keterangan resmi BPS NTB.
Ia menuturkan, untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat menjadi satu-satunya yang terendah dengan hanya 96,37 poin. Sedangkan sebagian besar sektor NTP lainnya alami kenaikan dengan angka di atas 100 poin.
”NTP subsektor tanaman pangan 108,26 poin. Tanaman hortikultura 103,67 poin, dan peternakan tumbuh 109,13 poin. Terakhir ada subsektor perikanan sebesar 104,05 poin,” jelasnya.
Pada bulan yang sama juga terjadi deflasi di daerah pedesaan NTB 0,55 persen.
”Hal ini akibat terjadinya penurunan Indeks konsumsi rumah tangga, khususnya pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Serta perumahan, air, listrik, juga bahan bakar rumah tangga,” ujar Suntono.
NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa konsumsi maupun biaya produksi.
Sementara itu, nilai tukar usaha pertanian (NTUP) Agustus 106,59 poin atau 0,08 persen. Jumlah ini naik dibanding Juli dengan 106,51 poin. Suntono melanjutkan, sebagian besar NTUP bernilai lebih dari 100 poin kecuali pada subsektor tanaman perkebunan rakyat yang hanya 95,05 saja.
”NTUP subsektor tanaman pangan 108,41 poin, dan tanaman hortikultura adalah 102,50 poin,” katanya.
”Sedangkan peternakan dan perikanan masing-masing sebesar 107,47 dan 105,40 poin,” tutupnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB Husnul Faozal mengatakan, kenaikan NTP menunjukkan kesejahteraan petani meningkat. Tinggal menjaga agar hasil tersebut tetap konsisten bahkan lebih baik lagi.
”Kita harus lebih mengintensifkan sistem pertanian tak hanya dengan sistem tradisional. Tapi juga mendorong ke arah kompetitif dan komersial. Selain substitusi kebutuhan sehari-hari, bisa juga ke hal-hal yang lebih implementer,” katanya. (eka/r9)
Editor : Baiq Farida