”Kinerja NTB peringkat ketiga tercepat penyalurannya,” ujar Pimpinan Wilayah (Pinwil) Perum Bulog NTB Abdul Muis, Kamis (5/11/2020).
Penyaluran beras sempat terkendala di bulan awal distribusi. Hal itu disebabkan pola distribusi yang masih perlu banyak penyesuaian.
”Kita segera adaptasi bulan kedua dan ketiga untuk kinerja lebih optimal,” katanya.
Selain dirasakan oleh keluarga penerima manfaat PKH, program bansos beras juga dinilai menguntungkan bagi para petani. Mereka merupakan kelompok masyarakat terdampak Covid-19. ”Kita tidak segan menyerap beras yang ada dari petani NTB karena ada kepastian pasar,” katanya.
Total serapan gabah dari petani mencapai 60 ribu ton. Untuk stok beras di NTB, masih ada 27 ribu ton yang tahan selama tujuh bulan. Setidaknya hingga waktu panen berikutnya.
”Saat ini juga masih panen jumlah kecil. Karena ketersediaan harus selalu standby,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Ahsanul Khalik, kepala Dinas Sosial NTB mengapresiasi kinerja Bulog NTB. ”Kita kalah dari Bali karena jumlah distibusi mereka lebih kecil. Tapi secara nasional, kita lebih unggul. Ini menunjukkan kinerja yang bagus,” katanya.
Dikatakan, jumlah persediaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) daerah masih stabil. Rinciannya, pemrov sebanyak 200 ton, dan masing-masing kabupaten masih punya 100 ton. Beras ini dikelola oleh pemerintah pada Perum Bulog. Dengan arah penggunaan untuk penanggulangan keadaan darurat bencana dan kerawanan pangan pasca bencana. ”Kalau jumlahnya masih kurang, baru menggunakan stok yang dimiliki Dinas Ketahanan Pangan,” katanya. (eka/r9) Editor : Baiq Farida