Melalui rilis yang dikirim ke Lombok Post, Hero Group kemarin mengumumkan sejumlah ritel Giant yang tersebar di seluruh Indonesia bakal ditutup. Menindaklanjuti kajian strategis atas seluruh lini bisnisnya, perusahaan akan memfokuskan bisnisnya ke merek dagang IKEA, Guardian, dan Hero Supermarket yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan Giant.
“Seperti bisnis mumpuni lainnya, kami terus beradaptasi terhadap dinamika pasar dan tren pelanggan yang terus berubah," ujar Patrik Lindvall, presiden direktur PT Hero Supermarket Tbk.
Hanya saja, terjadi penurunan popularitas format hypermarket dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia. Sebuah tren yang juga terlihat di pasar global. "Kami tetap meyakini bahwa sektor peralatan rumah tangga, kesehatan dan kecantikan, serta keperluan sehari-hari untuk kelas atas memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi,” imbuhnya.
Dalam kurun waktu dua tahun, Hero Group menargetkan akan menggandakan empat kali lipat jumlah gerai IKEA dibanding tahun 2020. Termasuk membuka hingga 100 gerai Guardian baru hingga akhir tahun 2022.
Sebagai bagian dari fokus baru ini, PT Hero Group akan mengubah sedikitnya lima gerai Giant menjadi IKEA, yang diharapkan dapat menambah aksesibilitas bagi pelanggan. "Gerai Giant lainnya akan dengan berat hati ditutup pada akhir Juli 2021, walaupun negosiasi terkait potensi pengalihan kepemilikan sejumlah gerai Giant kepada pihak ketiga masih berlangsung," bunyi rilis yang diterima Lombok Post.
Sementara pantauan wartawan Koran ini di Giant Ekspres Mataram, kemarin (27/5) kondisi kunjungan sudah mulai sepi. Meskipun sejumlah produk yang dijual didiskon atau mengalami penurunan harga. Bahkan diskon yang diberikan hingga 50 persen untuk beberapa produk kemasan tertentu.
Beberapa pegawai yang ditanya terkait rencana penutupan Giant Ekspres Juli mendatang mengaku belum tahu. Namun ada juga yang mengaku sudah mengetahuinya. "Ya ditutup. Tidak dipindah," cetus salah satu pegawai.
Otomatis Giant sudah tidak akan ada lagi di Kota Mataram. Menyusul Giant Extra yang sebelumnya juga ada di wilayah Monjok Kecamatan Selaparang, juga ditutup beberapa tahun lebih awal.
"Di sana sudah ada Mitra baru toko bangunan. Kami tidak pindah ke sana," lanjut salah satu pegawai Giant Ekspres yang ada di Kekalik Mataram.
Sementara Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Mataram Hariadi dan Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram H Amran M Amin mengaku belum menerima pemberitahuan. Terkait rencana penutupan Giant Ekspres Mataram. "Sampai saat ini belum ada kami terima pemberitahuan itu," ujar keduanya.
Sehingga pihak Dinas mengaku akan mengirim tim untuk berkoordinasi dengan pihak Giant mengkonfirmasi rencana penutupan ini.
Tidak Sepenuhnya Dampak Pandemi Covid-19
Pengamat Ekonomi Universitas Mataram Dr. Firmansyah menilai kondisi ini tidak sepenuhnya disebabkan dampak pandemi Covid-19. "Karena Giant ini menjual kebutuhan pokok dan yang mendasar atau kebutuhan penting lain yang saya kira tidak akan terpengaruh (Covid-19). Jadi pandangan saya ini bukan murni karena pandemi," terangnya.
Giant dinilai hanya memfasilitasi produsen dan konsumen. Sehingga penutupan menurut dosen Fakultas Ekonomi Unram ini justru lebih pada persaingan. "Karena serangan market place atau platform digital ini juga luar biasa," katanya.
Hero Group dikatakannya selain terjun ke pasar ril dengan produk nyata, juga bersaing dalam persoalan pasar modal atau pasar uang. Sehingga ini juga bisa berpengaruh pada usahanya. Namun ia memperkirakan jika Giant tidak akan ditutup begitu saja. Namun akan ada perubahan bentuk usaha lain yang akan menggantikannya.
Tetapi, tutupnya Giant Ekspres di Mataram, menurut Firmansyah bisa disikapi dengan perasaan senang dan tidak senang. "Senang karena ini akan menjadi peluang untuk retail lokal berbenah karena satu pesaing sudah berhenti," jelasnya.
Namun yang tidak menyenangkan, para tenaga kerja yang selama ini terserap Giant otomatis akan kehilangan pekerjaan. Sehingga angka pengangguran bertambah. Maka ia menyarankan kondisi ini perlu dicarikan solusi.
Ia meminta retail lokal perlu berbenah. Tidak hanya dari produk yang dijual tetapi sistem pembayarannya. Retail lokal juga bisa menyediakan layanan pembayaran lainnya yang sesuai kebutuhan masyarakat.
"Kemudiam daerah juga harus punya perusahaan khusus dalam bentuk retail seperti ini agar menyerap tenaga kerja. Selama ini belum ada perusahan daerah yang bergerak di distribusi, paling kita bermain di produksi," ungkapnya.
Padahal peluang perusahaan daerah yang bergerak di bidang distribusi juga tidak kalah menguntungkan dibanding produksi. Apalagi usaha itu memiliki jaringan hingga ke desa atau kelurahan. "Tetapi harus dipikirkan jangan juga mengganggu retail lokal yang kecil," lanjutnya. (ton/r3) Editor : Administrator