Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

SNI Produk Tembakau Alternatif Temui Titik Cerah

Galih Mps • Senin, 6 September 2021 | 13:23 WIB
Penjual tembakau lintingan di kawasan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/8/2021). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok tahun depan direncanakan bakal naik. Penerimaan cuka
Penjual tembakau lintingan di kawasan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/8/2021). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok tahun depan direncanakan bakal naik. Penerimaan cuka

JAKARTA - Seiring dengan beragamnya produk hasil pengelolahan tembakau lainnya (HPTL) yang beredar di Indonesia, Badan Standardisasi Nasional (BSN) merumuskan standar bagi produk-produk tersebut. Upaya ini dilakukan agar para pelaku usaha memiliki acuan dalam pembuatan produk HPTL.


Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan, dan Halal, Badan Standardisasi Nasional (BSN) Wahyu Purbowasito menjelaskan ini juga dapat memberikan perlindungan terhadap konsumen. Pihaknya bersama Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pun telah rampung menggodok SNI untuk produk tembakau yang dipanaskan (heated tobacco product).


SNI tersebut tertuang dalam Keputusan Kepala Badan Standardisasi Nasional Nomor 63/KEP/BSN/3/2021 tentang Penetapan Standar Nasional Indonesia 8946:2021 Produk Tembakau yang dipanaskan. “Sudah dirumuskan untuk SNI HTP,” kata Wahyu saat dihubungi wartawan, Minggu (5/9).


Adapun untuk produk HPTL lainnya seperti rokok elektrik, BSN masih melakukan penggodokan aturan. Wahyu mengungkapkan fokus utamanya adalah standardisasi bagi cairan rokok elektrik. “Sekarang e-liquid sedang dalam konsep. Ada juga usulan untuk chewing tobacco,” kata dia.


Wahyu melanjutkan standardisasi bagi produk-produk HPTL dilakukan untuk memastikan bahwa produk-produk yang beredar di Indonesia sesuai dengan spesifikasi pada SNI. Dengan demikian, konsumen bisa terlindungi dari potensi risiko akibat produk yang tidak memenuhi regulasi.










“Jika tidak ada standar, maka tidak akan terkendali bahan apa yang dimasukkan ke dalam produk tersebut. Bahkan bisa jadi produk yang dilarang pun jadi sulit untuk dikendalikan,” jelasnya.


Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Rizal E Halim menambahkan, dengan adanya lisensi SNI, masyarakat memiliki acuan untuk mengambil keputusan dalam membeli suatu produk. “Karena membeli barang tanpa ada SNI-nya, yang sebenarnya sudah diatur, tentunya berisiko bagi mereka, jika dibandingkan dengan membeli barang yang SNI,” kata Rizal.


Berdasarkan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2014 Tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian tujuan SNI adalah memberikan perlindungan terhadap konsumen, selain untuk menjamin perdagangan yang adil dan meningkatkan daya saing. (JPG)










Editor : Galih Mps
#sni #tembakau