Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Adaptasi, Omzet Pedagang Emas Mutiara Membaik

Wahyu Prihadi • Sabtu, 30 Oktober 2021 | 13:42 WIB
LAKU: Salah satu pelaku UMKM mutiara di Lobar. Saat ini penjualan mulai meningkat.(HABIBUL ADNAN/LOMBOK POST)
LAKU: Salah satu pelaku UMKM mutiara di Lobar. Saat ini penjualan mulai meningkat.(HABIBUL ADNAN/LOMBOK POST)
MATARAM-Pusat perdagangan emas dan mutiara di Kecamatan Sekarbela, Mataram terlihat masih lengang. Namun nyatanya, penjualan emas dan mutiara oleh para pedagang setempat sudah kembali moncer.

Kilau emas yang ditawarkan tetap memikat hati para pembeli meski pandemi belum usai. Taswiana, owner Ana Pearls mengatakan, tren saat ini para pedagang memanfaatkan media online untuk mendongkrak penjualan. Baik melalui beragam marketplace, jejaring reseller, hingga dropship.

”Keempat pegawai masing-masing memegang satu kelompok reseller. Mereka juga bertanggung jawab untuk beragam marketplace untuk mempercepat respons dengan para pembeli,” paparnya, (29/10).

Sebelum pandemi, pihaknya bisa meraup omzet bulanan Rp 110 juta per bulan atau mendekati Rp 1,5 miliar per tahun. Setelah tutup selama tiga bulan di awal pandemi Maret lalu, kini omzet yang dikantongi justru lebih besar. Bisa mencapai Rp 1,6 miliar per tahun.  Atau sekitar Rp 135 juta bisa didapat per bulan. Tak heran sebab saat ini pelanggannya dari Aceh hingga Jayapura. Baik kunjungan langsung, maupun melalui sosial media. Bahkan juga penjualan hingga ke luar negeri seperti Hong Kong, China, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan geliat ekonomi di sektor perdagangan bisnis emas dan mutiara telah bergerak kembali.

”Pembeli luar negeri biasanya mereka beli butiran. Sementara dalam negeri lebih banyak aksesori. Pembeli dari Jawa dan Kalimantan bisa sampai puluhan juta sekali belanja,” jelasnya terkait tren saat ini.

Produk yang dijualnya emas, perak, dan mutiara laut juga mutiara air tawar. Berupa mutiara butiran dan ada yang dirakit dengan bahan emas, perak atau logam yang lain. Pihaknya menggandeng delapan orang perajin lokal dan sejumlah pedagang dan perajin lepas yang biasa menawarkan kerajinan.

Mutiara yang dijualnya beragam mulai dari grade A hingga C. Grade A, misalnya. Memiliki kemulusan bentuk hingga 90 persen. Harganya Rp 350-800 ribu per gram. Bahkan ada juga yang Rp 1-2 jutaan per gram. Semakin besar ukurannya, semakin mahal.

”Bergantung size, luster, dan shining  serta keberhasilan bentuk yang sesuai,” katanya.

Untuk permodalan, pihaknya tak hanya menggunakan modal mandiri. Tapi juga memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI dua kali sebesar Rp 25 juta.  Modal ini dimanfaatkannya untuk memperbanyak inovasi produk. Modal alat dan pertukangan untuk para perajin pun sebagian disiapkannya.

”Alat platting impor saja dulu harganya Rp 30 juta, sejak pandemi naik menjadi Rp 75 juta,” kata Zuhud, salah satu perajin senior.

Alat-alat tersebut katanya juga harus di-upgrade dalam kurun waktu tertentu. Hal itu untuk memastikan kualitas produk yang diproduksi tetap maksimal. (eka/r9)

  Editor : Wahyu Prihadi
#jualan online #Mutiara Lombok #emas sekarbela