Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Berinovasi, Pria ini Jadikan Air Nira Miliki Nilai Jual Tinggi

Galih Mps • Senin, 7 Februari 2022 | 13:33 WIB
INOVASI: Muhammad Rizani pemilik UD Karya Mandiri memperlihatkan berbagai produk King Aren yang diproduksinya.(RIZANI FOR LOMBOK POST)
INOVASI: Muhammad Rizani pemilik UD Karya Mandiri memperlihatkan berbagai produk King Aren yang diproduksinya.(RIZANI FOR LOMBOK POST)

MATARAM-Air nira biasa diolah menjadi gula merah batokan. Bisa juga dijuak begitu saja sebagai minuman lokal tuak manis. Namun, bagi Muhammad Rizani, pemilik UD Karya Mandiri, air nira diolahnya menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Yakni dengan sentuhan inovasi dan menjadikannya berbagai macam produk dari gula aren.


”Daripada jadi miras, lebih baik kita jadikan produk olahan makanan yang lain,” ujar pemilik King Aren ini.


Harga jual air nira di tingkat petani ke pengepul sendiri relatif. Saat melimpah, harga jualnya bisa amat anjlok. Sehingga banyak petani mengalami kerugian. Blum lagi lokasinya yang berada di Tanjung, Lombok Utara juga memiliki aneka sumber daya alam yang belum banyak dimanfaatkan. Untuk itu pihaknya segera meminta pembinaan pada pemda setempat. Mengikuti pelatihan hingga studi banding untuk membuat produk bernilai jual. Salah satu olahannya yakni produk Gula Sari. Ini menjadi makanan tradisional orang tua zaman dulu.


”Gula Sari dulu biasa dibawa saat pergi haji atau umrah sebagai bekal perjalanan selama enam bulan,” paparnya.


Sejak itulah aneka produk tambahan mulai diproduksinya. Diantaranya kopi gula aren, gula briket (gula cetak), choco (coklat) aren, kopi jahe gula aren, dan serbat. Bahkan ia juga mencoba inovasi air nira atau tuak manis menjadi berbagai macam minuman instan. Kemudian dikombinasikan dengan berbagai rasa seperti lemon tea, strawberry, anggur, jeruk, nanas, dan sebagainya.


”Pengembangan dan pelatihan kita ikut dari Bank Indonesia (BI) NTB. Dari situ banyak inovasi produk kita munculkan,” katanya.


Kini pihaknya sudah membentuk lima kelompok petani aren. Mereka dibina melalui pelatihan pengolahan serta standarisasi produk dan lainnya. Petani sudah mengetahui standarisasi, mulai dari oven hingga pengemasan. Bentuk setengah jadi inilah yang kemudian diambil pihaknya. Hal ini juga membuat kapasitas produksinya meningkat.


Tahun 2018, pihaknya hanya mampu memproduksi sekitar 100 kilogram gula aren per bulan. Saat ini kapasitas produksi sudah mencapai 10-15 ton per bulan. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 700-70.000 dengan berbagai macam ukuran. Mulai dari ukuran stik enam gram, 200 gram, 250 gram, 400 gram, satu kilogram, dan ada juga yang curah.


”Curah biasanya dijual kepada produksi kue,” katanya.


Perbaikan kualitas rantai pasok ini diharapkan dapat membuat produksinya diterima berbagai negara. Sebab selama ini hambatan ekspor masih ditemukannya berkaitan dengan kapasitas produksi dan permodalan. Padahal pasar produk aren, terutama jenis gula semut dan kopi gula arennya sudah banyak dibeli hingga ke berbagai daerah di Indonesia.


”Sementara ini pemasaran masih di beberapa daerah, seperti Palembang, Aceh, Surabaya, Jakarta, dan Yogyakarta dengan sekali kirim 200 pcs dengan ukuran 250 gram,” imbuhnya. (eka/r9)

Editor : Galih Mps
#inovasi Gula aren