Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Setelah Beras, Harga Cabai Ikut Naik, Tembus Rp 75 Ribu Per Kilogram

Galih Mega Putra S • Selasa, 31 Oktober 2023 | 13:49 WIB
HARGA NAIK: Salah satu pedagang sembako di Pasar Kebon Roek Mataram. Saat ini harga cabai naik menjadi Rp 70-75 Ribu per kilogram.(FERIAL/LOMBOK POST)
HARGA NAIK: Salah satu pedagang sembako di Pasar Kebon Roek Mataram. Saat ini harga cabai naik menjadi Rp 70-75 Ribu per kilogram.(FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost-Belum usai dengan harga beras yang masih tinggi, kini harga cabai ikut melambung. Harga cabai di berbagai pasar tradisional kini mencapai Rp 70-75 ribu per kilogram.

Kenaikan harga ini dikatakan Kepala Dinas Perdagangan NTB Baiq Nelly Yuniarti akibat dampak kemarau. Selain itu, permintaan akan cabai di luar daerah juga tinggi. Hal itu didukung dengan harga yang bagus yang didapatkan petani cabai. ”Itu yang membuat petani kita senang mengirim ke luar,” ujarnya, Senin (30/10).

Contohnya seperti di Batam, harga cabai di pasar kini tembus hingga Rp 80 ribu per kilogram. Artinya, kenaikan tersebut merupakan hukum pasar  ketika permintaan banyak. ”Selain itu, petani juga pasti mencari harga terbaik, jadi ini yang mempengaruhi,” sambungnya.

Nelly berharap di ujung musim kemarau ini tetap ada panen cabai, dan harga bisa dikendalikan. Pihaknya pun sudah berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) NTB untuk hal ini. Sebab BI NTB memiliki petani binaan untuk mengeluarkan stok cabai ketika terjadi kenaikan harga yang tinggi.

Dibeberkannya, harga cabai di pasar-pasar tradisional kini mencapai Rp 65 ribu ke atas. Tidak adanya cadangan pangan untuk komoditas ini membuat pihaknya sedikit kesulitan. Sebab itu, pihaknya saat ini hanya mampu berkomunikasi dengan stakeholder terkait yang memiliki petani cabai binaan.

”Kalau permintaan kemarin memang banyak mereka kirim ke Batam dan Jakarta, karena mereka juga di sana berani bayar mahal,” bebernya.

Kenaikan harga komoditas cabai ini dikatakan Nelly, kasusnya mirip dengan gabah. Petani akan melepas barangnya di tempat yang memiliki harga tinggi. Sebab itu, pihaknya melakukan koordinasi untuk menjaga agar itu tidak dikirim ke luar NTB saja. ”Tetapi tetap harus menghitung kebutuhan yang ada di dalam daerah untuk masyarakat sendiri,” terangnya.

Berbicara soal stok, Nelly mengatakan hingga saat ini pemerintah daerah tidak memiliki gudang yang bisa mengontrol suhu. Di samping itu, komoditas cabai termasuk cepat membusuk, sehingga cukup riskan jika disimpan. ”Kalau stok, yang lebih mengerti itu memang DKP,” katanya.

Pemasok cabai di dalam daerah paling banyak berasal dari Kerongkong, Lombok Timur dan Kediri, Lombok Barat. Dua wilayah ini menjadi pemasok terbesar untuk kebutuhan dalam daerah. ”Kemudian kita juga biasanya ada masuk cabai dari Jawa, tapi sekarang belum ada masuk, ini yang membuat harga itu naik,” kata Nelly.

Ditambahkan Nelly, beras pun masih dalam kondisi harga yang tinggi. Sebab itu, adanya Pergub Nomor 38 nantinya diharapkan bisa menahan gabah tidak keluar dari NTB sebelum memenuhi kuota dalam daerah. ”Kalau cabai ini belum ada Pergubnya,” tandasnya.

Seorang warga Kediri Lombok Barat Suciyaturrahim mengatakan, harga cabai di Pasar Kediri saat ini naik banyak. Per kilogramnya mencapai Rp 70 ribu, bahkan ada yang Rp 75 ribu. Kenaikan baru terjadi dalam beberapa hari belakangan. ”Biasanya saya beli satu kilogram, jadinya hanya bisa beli seperempat saja, karena mahal harganya sekarang,” pungkasnya. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#bi ntb #beras mahal #Cabai