Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Eksis Hingga Kini, Perajin Tenun Sukarara Pertahankan Motif dan Pewarnaan Alami

Galih Mega Putra S • Rabu, 22 November 2023 | 10:05 WIB
BANYAK MOTIF: Pengunjung melihat-lihat aneka jenis motif kain tenun khas Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, belum lama ini. (IST/LOMBOK POST)
BANYAK MOTIF: Pengunjung melihat-lihat aneka jenis motif kain tenun khas Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, belum lama ini. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki banyak jenis tenun yang menarik. Motifnya pun beragam dengan warna-warna cantik yang membuatnya terlihat indah.

Salah satunya di Lombok Tengah, tepatnya di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat. Ada produk kain tenun yang tetap eksis hingga saat ini.

Di tengah gempuran produk tenun pabrikan, produk kain tenun Desa Sukarara ini tetap memilih bertahan. Meski tidak mudah, namun para perajin memilih tetap mempertahankan keaslian produk tenun tersebut.

Seperti yang dilakukan Satriadi, pemilik UD Bintang Remawa di Desa Sukarara. Sejak 2007 lalu, UMKM ini memilih tetap menjual produk-produk kain tenun dengan motif asli dan pewarnaan alami.

Kata dia, tenun songket dari Desa Sukarara ini masuk ke dalam jenis tenunan brokat. Dengan jenis kain yang biasa digunakan seperti kain katun sutra, kain sutra, ataupun kain katun. Dirinya mengaku tidak mudah mempertahankan usaha hingga saat ini. ”Pasang surut sudah pernah saya lalui agar kain tenun ini tetap eksis,” ujarnya.

Agar kain tenun ini bisa terus berkembang, para perajin harus berinovasi tanpa menghilangkan ciri khas tenun Sukarara. Ketua kelompok perajin tenun Lombok Tengah ini mengatakan, mereka harus berani berspekulasi dengan ide-ide yang tidak biasa. ”Sudah waktunya perajin kain tenun mengambil langkah tersebut. Jika terus monoton, tidak akan memberikan dampak apa pun bagi mereka maupun usahanya,” jelas Satriadi.

Menurutnya, semua pelaku usaha harus berani berkorban dalam berusaha. Tidak melulu bergantung pada pemerintah. Kalau pun bergantung, hal itu harus disesuaikan agar usaha tetap bisa bertahan dan berkembang. ”Kita harus berani mengeluarkan biaya,” tegasnya.

Salah satunya seperti saat mengikuti berbagai event. Baik itu skala nasional hingga internasional. Para perajin tenun harus berani ikut dan membayar sewa stand secara bersama-sama atau berkelompok. Sebab jika dibebankan seorang diri, itu sudah jelas terasa berat. ”Makanya dibagi biaya sewa stand misalnya, dengan kelompok. Ketika menginap di luar daerah, sebaiknya cari kos-kosan tidak hotel. Menekan biaya operasional,” terangnya.

Selain itu, perajin kain tenun juga harus bisa membaca peluang pasar. Menjaga keaslian produk juga dinilai bisa menarik minat pasar. Apalagi di tengah gencarnya kampanye industri fesyen NTB saat ini. ”Kemudian libatkan juga generasi muda agar ikut melestarikan warisan leluhur,” ujar bapak empat anak itu.

Pada Maret 2024 mendatang, Satriadi bersama kelompok akan mengikuti pameran Inacraft. Itu merupakan ajang pameran bergengsi yang diselenggarakan ASEPHI, yang merupakan wadah bagi produsen dan eksportir handicraft Indonesia atau yang dikenal Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia. ”Kita akan bawa dua ribuan kain tenun songket, di sana kami tidak hanya menjual barang namun menjual history dari motif kainnya,” bebernya.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, perajin masih butuh atau bergantung pada keterlibatan pemerintah daerah. Seperti menyediakan tempat khusus bagi perajin industri kriya untuk memamerkan kerajinan mereka.

Perajin berharap dapat memanfaatkan bangunan atau aset milik Pemkab. Bangunan itu dapat disulap sebagai gedung pameran aneka ragam kerajinan khas Gumi Tatas Tuhu Trasna (Tastura). Setiap tamu pemerintah daerah maupun wisatawan bisa diarahkan ke gedung itu nantinya. (fer/r9)

Editor : Rury Anjas Andita
#sukarara #NTB #tenun