LombokPost- Budi daya kurma di Kabupaten Lombok Utara (KLU) menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Bagaimana tidak, pohon yang sudah tumbuh baik, hidup hingga usia 100 tahun. Tumbuhan dari Timur Tengah ini bisa menghasilkan pendapatan hingga ratusan juta rupiah per tahunnya.
Hal ini dibeberkan Ketua Tim Petani Kurma Ukhuwah Datu Pola Nyakap KLU Suharman. Dikatakannya, panen perdana atau panen buah pasir kurma diperkirakan tembus satu ton. Panen itu terhitung mulai dari Februari hingga Maret.
Untuk rencana pengembangan kurma di KLU, sebelumnya sempat dilakukan pemetaan dengan BPN. Tercatat sekitar 1.700 hektare lahan potensial ditanami kurma di KLU. Dari jumlah tersebut, diperkecil kembali hingga menjadi 1.000 hektare yang benar-benar potensial. ”Itu pun tidak semua lahan yang bersifat produktif yang harus dihabiskan,” ujarnya.
Pihaknya kemudian menyadari, menanam kurma tidak harus di lahan produktif. Justru menanam kurma menjadi upaya menghidupkan lahan kering. Sementara di satu sisi, ada banyak lahan kering yang tidak digarap pemiliknya lantaran berbagai persoalan.
Kelompok Ukhuwah Datu Pola Nyakap memutuskan untuk hadir di tengah masyarakat yang tidak mampu mengelola lahannya. Pemilik lahan diajak terlibat dengan pola nyakap atau pemegang saham.
Berkat pola ini, tidak hanya pemilik lahan, namun juga banyak pihak tertarik menjadi pemodal. Saat ini tercatat ada 18 provinsi menjadi pemodal untuk kurma di KLU. Mereka rata-rata penggiat kurma yang tersebar di daerah yang tidak bisa membudidayakan kurma dengan produksi maksimal. ”Seperti di Aceh, Kalimantan, Sumatra, Bogor, dan Jawa, itu tidak bisa maksimal membudidayakan kurma seperti di sini,” bebernya.
Hal ini dikarenakan faktor klimatologinya yang tidak mendukung. Sehingga ada yang menghabiskan uang sekitar Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar untuk membudidayakan. Melihat potensi di KLU, banyak yang memutuskan untuk berinvestasi, meski hanya satu-dua pohon dengan pola nyakap. ”Kita kelola sekarang ini sudah masuk lima titik dengan total lahan di Montong Pal ada sekitar 7.000 meter persegi. Di Jugil juga sekitar 7.000 meter persegi, di Kerta Raharja ada sekitar 30 are. Ada di Lokok Pikok ada sekitar 2 hektare 30 are,” terangnya.
Secara dampak ekonomi dari budi daya kurma ini diakui Suharman belum terlihat maksimal. Namun untuk awal ini, sudah ada 21 tenaga kerja yang direkrut untuk mengelola kurma pola nyakap ini. Mereka semua dikontrak seumur hidup. Dalam artian, mereka bekerja sampai masa produktif kurma selesai. ”Kurma ini berproduksi selama 100 tahun, itu pun di 100 tahun tidak mati pohonnya, hanya berkurang pembuahannya,” jelasnya.
Harga jual buah kurma di pasaran saat ini diakuinya relatif. Untuk jenis khalas, harganya tembus Rp 350 ribu per kilogram di luar negeri. Di dalam negeri bisa saja kurma jenis ini dijual Rp 400 ribu per kilogramnya. ”Kalau ini tidak berbicara mau dijual di mana karena memang kita sudah punya lapak di 18 provinsi, tinggal di dropping saja,” bebernya.
Mengenai biaya yang dikeluarkan dengan pola nyakap ini diakuinya tidak besar. Untuk pembelian bibit yang sudah diuji sekitar Rp 1,5 juta. Sedangkan untuk pupuk, pengelola bisa menggunakan pupuk kandang dan air. ”Karena itu makanan pokoknya. Kalau pun ada pupuk booster, itu rahasia perusahaan,” ujarnya.
”Kurma yang ini baru berumur lima tahun. Dari usia 2,5 tahun itu mereka sudah mulai belajar berbuah,” imbuhnya.
Budi daya kurma di KLU, kata Suharman diinisiasi salah seorang putra Palembang yang mengajak pihaknya di akhir 2015 lalu. Di awal 2016, pihaknya mulai melakukan serangkaian proses untuk itu, hingga di akhir tahun pihaknya mulai menanamnya di Kerta Raharja. ”Sekali panen itu bisa Rp 5 juta lebih untuk satu pohonnya. Dalam setahun itu dua kali panen. Di Jugil ini ada 38 pohon, belum titik-titik lainnya,” jelasnya.
Selain jenis khalas, ada juga kurma jenis barhee dan sukari yang ditanam di titik lain. Ada juga ditanam kurma medjool, kurma super premium dengan harga Rp 1,4 juta. ”Kurma Sukari itu Rp 250-350 ribu per kilogram,” pungkasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida